BELAJAR SAMPAI KE BATIK TRANS

31 Jul

SEORANG lelaki perawakan pendekar alias pendek kekar mondar mandir ga karuan di halte busway. “Haduhh mana sih nih bisnya? Ada ga sih?” Aihhh suaranyaaa melejittt,keluar dari mulutnya yang melambai lebay. Hahaha Ling ketawa ga peduli seisi halte meliriknya.

“Protes donk, Bang. Ke petugas,” seorang perempuan yang berdiri di dekatnya mengipasi (kata dasar: kipas. Belum sepanas mengompori. Kata dasar: kompor ;-)), sambil mengipasi dirinya dengan tangannya.

Si pendekar merasa tertantang untuk kemudian menyeruak kerumunan penumpang,menghampiri petugas tiket.

“Pak,gimana nih, lama sekali bus nya?”
Dengan anggun petugas tiket menunjuk selembar kertas tertempel bertuliskan “Lama/cepatnya bus bukan domain petugas tiket/operasional tiket”

Pendekar itu paham bahwa bertanya pada petugas penjaga loket adalah mustahil. Jadi dia memilih lebih baik kembali dan curhat dengan perempuan tadi.

“Menunggu bus di halte busway seharusnya penuh dengan kepastian,” kata Al yang penuh perhitungan dan akurasi, penting sekali memperkirakan berapa menit tiba di suatu tempat sehingga harus mulai berangkat dari tempat asal pada pukul berapa.

“Coba lihat sarana komunikasi dan kabel-kabel jaringan di halteu ini, ini semua kan berarti setiap halteu sudah terhubung, apa susahnya sih petugas loket di halteu yang satu memberi kabar ke petugas halteu yang berikutnya”.

“Ihh…kan udah gue bilang busway tuh pasti. Pasti lama. Pasti ga jelas. Pasti ga pernah telat karena pasti ga pernah ada jadwal,” pasti kalimat sinis Ling yang dengan lancar meluncur.

“Gue mah yang penting ya bisa berdiri menatap jendela deh. Bukan di antara ketiak. Mustahil kan dapat yang kosong di halte tengah-tengah begini dan jam bubar kerja pula.”

“Kenapa ya ga ada secuil informasi di mana bus yang kita tunggu. Yang pernah ada hanya informasi “Maaf bus agak lama karena mengisi BBG (Bahan Bakar Gas)”.

Tapi ternyata, saat ini Al merasa sangat senang. Halte bis Batik Trans di Surakarta luar biasa. “Eh Ling lihat tuh.” Al menunjuk sebuah angka yang dibentuk dari tulisan digital di sebuah kotak berbingkai hitam, terpasang di atas tempat duduk tepat berhadapan dengan pintu.

Angka digital itu berubah-ubah. Awalnya angka 6, berubah 8, lalu 17 dan 11 dan 9! Ling mulai rewel, “Wah lagi tebak-tebakan nih. Sok trusnya angka berapa. Wuahh 2! 1! 0!”.

Tiba-tiba muncl Batik Trans di halte. Wajah Al tampak senang dan puas sekali. Matanya yang sejak tadi melihat angka “kacau” lalu bergantian memperhatikan arah datangnya bis seperti mendapat harta karun. Berbinar-binar. Tenang…sebentar lagi pasti dibahas, tebak Ling.

“Nah ini yg gue maksud, Ling. Setiap bus trans nya di pasangi alat canggih GPS. Jadi di setiap halte bisa ditampilkan perkiraan bus akan tiba di halte tersebut.”

“Trus kenapa angkanya ga tetap?”

“Iya begitulah sistem GPS. Perhitungan waktu yang diberikan oleh GPS dihitung berdasarkan jarak tempuh dan kecepatan bus yang bersangkutan. Jika kebetulan bus menjadi lambat karena terkena macet atau berhenti di lampu merah, tentu perhitungan waktunya akan menjadi lebih lama.”

*** Ah senangnya … meskipun berdiri…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: