TUSLAH DAN TULAH

28 Aug

AL dan Ling ga mudik. Ya bukan apa-apa, memang ga punya kampung yang mengaku punya warga berdua ini. Hehehe..Mereka tinggal dengan orangtua masing-masing di Bogor. Bebas memilih mau pergi ke kampung mana.

Pada H minus 5 menjelang hari raya lebaran ini, mereka masih ke Jakarta. Di terminal, bis sudah terisi sebagian, tentu menunggu penuh tuntas tass taasss.

“Al, mudik tuh artinya apa ya? Bahasa apa itu ya?”

“Daripada mpulang kampung, kan kepanjangan, Ling.”

“Tumben ngasal.”

“Al, kita duduk di tengah begini siap-siap ya ada pengamen di lorong kursi ini.”

“Iya, gapapa deh.” Saat itu Al dan Ling harus bergeser sedikit karena ada yang akan duduk di sebelah mereka.

Seorang laki-laki sepertinya mahasiswa mau mudik. Bertiga mereka naik bis itu sama-sama. Dua kawannya duduk di kursi yang berseberangan. Ransel dan tas besar mereka simpan di ruang di atas kepala penumpang.

“Kenapa ya, Al, harga tiket jadi naik saat ramai?”

“Ohh, itu sesuai dengan hukum ekonomi. Semakin banyak peminat, harga akan semakin mahal”

“Ah harusnya kan biasa ajah ya. Kan banyak yang butuh dan terjual lebih cepat. Uang masuk akan lebih cepat disimpan untuk bunga bank.”

“Memangnya di warung yoghurt loe, ga bayar THR karyawan ya, Ling?”

“Gue sih ga, mamah gue yang bayar.”

“Wahaha grrrhhhh…Begini ya, Ling. Kebutuhan menjelang hari raya semakin tinggi di semua pihak. Termasuk atasan yang harus membayar tunjangan hari raya buat karyawannya. Jadi kalau harga tiket diperlukan untuk bayar THR sopir, ya kelebihannya itu dibebankan ke penumpang. Istilahnya disebut Tuslah, berasal dari Bahasa Belanda. Tulisannya T-O-E-S-L-A-G. Artinya tambahan pembayaran.”

“Mamah loe kan warga Belanda, Ling. Koq loe ga tau?”

“Ya mamah gue kan jualan yoghurt, bukan jualan tuslah”

Al cuma mendengus.

Bis mulai melaju. Benar saja, suara gitar pengamen mulai dibunyikan ‘tring’ ‘tring’ memberi tanda, aku dataaaangg.

Ling menoleh, pengamen itu masih sangat muda, sekitar 15 tahun usianya. Berdiri satu kursi di belakangnya.

Kawan di sebelah Al mulai mencari-cari sesuatu di kantongnya. Lalu menoleh kepada kawannya di kursi seberang.

“Eh, gue pinjam ongkos ya, nanti diganti. Dompet gue susah diambil nih, sembari matanya menatap tasnya di bagasi atas kepala.”

Ling mulai memperhatikan.

Tanpa diduga, temannya menjawab, “Ga bisa, gue ga punya.”

Hahh?! Ongkos bis ini hanya Rp 7.000. Mereka ga mungkin kan hanya naik bis satu kali. Pasti akan naik kendaraan berikutnya. Masing-masing pasti punya ongkos donk.

Kenapa dia bilang begitu ya? Mata Ling mendelik-delik sambil terus memperhatikan. Al mulai was-was. “Ssstt…Ling…udah.. tuh..itu dagang apa ya…” Al serba salah mengalihkan perhatian Ling.

“Ohh, ya udah, Gue pinjam loe ya.” Kata kawan itu lagi kepada kawan yang lainnya. Ingat kan, mereka bertiga. Ah syukurlah kawan yang satu itu mengangguk.

Ling mulai memperhatikan wajah-wajah mereka. Yang pelit itu memang tampangnya menyebalkan. Rambutnya lurus, matanya kecil runcing, mulutnya agak ke depan. Ih mirip tokoh Suneo di film kartun Jepang Doraemon, kegemaran Ling.

Wajah yang baik itu memang berbeda. Wajah yang ingin meminjam uang juga biasa saja. Ling mulai terpengaruh sutradara film. Wajah jelek pasti jahat. Wajah teduh pasti baik.

Kondektur bis mulai berjalan menagih. Betul saja, harga sedikit naik menjadi Rp 8.000. Artinya naik sekitar 14 persen ya.

Al menyodorkan uang dan mendapat kembalian. Kawan yang membayarkan juga menyodorkan untuk 2 orang.

Tiba-tiba si pelit itu bilang,”Eh ongkos gue kurang.” Halaahhh…

Lalu…Pertolongan tak terduga datang dari kawan yang tadi tidak ditolongnya.

“Kalau seribu, gue ada nih,” katanya sambil merogoh kantong dan mengeluarkan selembar seribuan.

Wuaduh…semua drama itu membuat perasaan Ling makin teraduk-aduk.

Al berusaha menenangkan, “Mungkin dia memang ga punya uang, Ling”

“Ga mungkin lahh…setelah ini memang dia ga punya ongkos lagi? Kan sudah bawa persiapan mudik. Pasti punya ongkos cukup donk.”

“Ini bukan persoalan uang. Tapi karakter aneh dalam persahabatan. Koq ada yang mau berteman dengan orang macam itu ya?”

Bis terus melaju. Tiba-tiba sopir mungkin harus menghindari sesuatu dan bis oleng ke kiri.

BLETAKK! Terdengar suara cukup keras disusul teriakan,”An**ng!”

Disusul tertawa Ling, “hahahahahaha, rasain!”

Rupanya saat bis oleng tadi, gitar sang pengamen ikut oleng dan memilih bersarang di kepala si pelit.

Lumayan keras dan kaget si pelit itu sehingga berteriak. Dia masih menggosok-gosok kepalanya sambil sempat melirik pada Ling yang dia ga tau kenapa Ling begitu senang melihatnya.

“Ahh…leganya…Tuslah dan Tulah. Hihihii…”

***Kasih sedekah lebih ke pengamen itu ya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: