SUDI PERILAKU

24 Jul

AL mau ke rumah Ling, kedai yoghurt J-Yo. Al memang lebih suka akurat tapi termasuk sabar dan ga keberatan dengan seperti apapun kondisi busway. Asalkan harga jangan naik. Kalau memungkinkan, lebih murah saja. Tambah kacaupun ga apa-apa. Murah atau mahal tetap kacau kan….lhaaa sabar tapi pesimis.Lamunan Al tentang harga, berlanjut angan-angan. Andaikan menunggu di halte transjakarta sembari mendengarkan informasi dari petugas “Bus Transjakarta Pluit-PGC baru saja meninggalkan halte BNN dan akan tiba di Halte Cawang UKI dalam waktu 2 menit lagi. Saat ini jumlah penumpang adalah 1.124. Kondisi padat. Jika ingin naik siapkan energi untuk berdiri”. Jumlah itu diperoleh dari info petugas pintu busway kepada petugas di halte.

Canggih kan…Dengan begitu, penumpang yang sudah masuk halte dan otomatis sudah bayar karcis, boleh memutuskan apakah tetap naik, atau berharap yang beikutnya lebih cocok, atau keluar dari halte memilih moda transportasi lain. Tapi tiket tidak bisa ditukar lagi dengan uang. Kecuali dijual kepada penumpang lain yang berpapasan di jembatan menuju halte.

Tidak lama setelah 38 menit menunggu, sebuah bis lewat. Benar-benar lewat! Kosong tapi lewat!

Terrr laaa luuuu….

Al melirik ke arah tulisan: Lama/cepatnya bis bukan domain dari petugas tiket/operasional tiket.

Kenapa muncul tulisan itu ya? Kesannya tidak peduli dan cari aman. Siapa yang menulis dan menempel tulisan itu? Kondisi nyata ini sangat berbeda dengan lamunan Al.

Apakah petugas tiket adalah “domain” dari lahan yang berbeda?
Jadi, penumpang tidak punya tempat mendapatkan informasi atau bahkan mengadu selain telepon?

Bukankah mudah, petugas tiket bisa sampaikan aspirasi kepada atasan untuk dibawa ke rapat? Atau sudah dilakukan namun aspirasi itu dianggap angin lalu oleh atasan, sehingga “petugas ujung tombak” ini lah yang menanggung beban, lalu muncullah tulisan “pengumuman tidak tahu menahu” itu?

Bukankah ada cara lain menyediakan kotak saran daripada menolak suara-suara pelanggan? Ah pelanggan bukan raja di ranah ini.

Baru 3 menit kemudian, Al akhirnya berdesakan naik. “Permisi, permisi.” “Kasih jalan, kasih jalan”. Koq masih ada ya yang ga mau naik tapi ga menggeser memberi jalan saat bus yang datang bukan yang diperlukannya.

Sambil bergelantungan di dalam bis, Al membayangkan lagi harusnya petugas di halte itu membuat Studi Perilaku. Bagaimana penumpang pada tiap jamnya. Berapa banyak dan ke mana tujuan mereka.

“Jadi Ling, Studi Perilaku ini akan berguna untuk memberi info bis mana yang lebih banyak pada jam tertentu,” bahas Al di rumah Ling.

“Maksudnya supaya bis yang datang ga mubazir ada yang kosong banget padahal ada yang penuh banget ya?”

“Betul, antara lain begitu.”

“Gue sih lebih tertarik memberi seminar pada para penumpangnya daripada mengharap petugas membuat Studi Perilaku.”

“Pelajaran dari gue adalah Sudi Perilaku. Perilaku Sudi. Sudikah loe naik berdesak-desakan tidak manusiawi? Sudikah loe melanggar tulisan maksimal 87 penumpang? Sudikah loe menunggu lebih dari 10 menit tanpa protes meninggalkan halte dan menuntut tiket diganti? Sudikah loe mencium ketiak-ketiak? Sudikah loe naik sebagai ayam yang mau dibikin sup? Dan segudang sudi sudi lainnya atas nama manusiawi dan kenyamanan.”

Wah Ling makin berapi-api.

“Trus buat petugas, seminarnya adalah: mengeja tulisan maksimal sekian penumpang. Itu pasti mudah cara deteksinya. Pake ajah patokan kalo penumpang sudah ga dapat pegangan tangan untuk gelantungan, tidak boleh ada yang naik lagi.”

“Kalau penumpang masih sudi, ya ga akan ada pembelajaran buat petugas.

“Hmmm…yayaya…tapi…hmm. Gue haus, Ling…,”

**Ya gitu dehh…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: