KURSI AYUN PIPA

22 Apr

Kalau di kereta api ga kebagian tempat duduk, banyak orang bawa kursi lipat. Kursi yang bisa dilipat bisa dibuka, bisa dilipat dan dibuka lagi.

Menyikapi larangan duduk di tempat VIP samping kiri pengemudi, sekarang mereka pun membawa. Bukan kursi lipat. Tapi tangga lipat! Al dan Ling melenggang masuk dan membuka tangga lipat mininya dan duduklah mereka di sana berdua dengan masing-masing tangan berpangku dagu.

“Ling… kalo bawa tangga terus, repot juga ya,” kata Al yang kerepotan membawa tangga mini itu ke mana-mana. Nanti, gue bawa rancangan baru ya. Bisa dipakai kalau penuh sesak di koridor yang manapun. “E euh,” Ling manggut-manggut.

“Coba bayangkan. Sebuah benda. Berupa sebatang pipa besi diameter setengah inci dengan panjang 20 cm, di bagian tengahnya diikat tali sepanjang satu setengah meter. Ujungnya diikatkan pada sepotong kait.

Hari ini naik busway lagi. Al dan Ling masing-masing memegang benda itu. Tampak rileks tidak tergesa-gesa, malahan sengaja menunggu yang penuh tapi tidak terlalu padat. Di dalam, mereka berdua mengkaitkan besi berbentuk lengkung ke tempat penumpang bergelayutan. Terus membuka gulungan talinya dan mereka pun bisa duduk berayun2 di kursi eh pipa kreatifnya.

Tentu saja mereka jadi tontonan penumpang lainnya. Ada yang Cuma senyum-senyum, ada uga yang tanya-tanya,”Ga sakit tuh, Dik. Kena batang pipa.” “Ga, Pak. Lebih sakit hati kami, bayar sama tapi berdiri,” Ling memang suka asal bersuara. “Mau coba, Pak?” Al mencoba berbaik hati. “Boleh. Sebentar ya, saya turun dua halte lagi.”

Dua halte berikutnya Bapak itu berdiri. “Terima kasih, Dik. Lumayan, tapi lebih enak kalau tempat duduknya dibuat lebih empuk.” “Sama-sama, Pak. Dua halte seribu rupiah saja,” kata Al sambil menerima kembali tempat duduknya. “Boleh.” Wah Pak Boleh itu menyodorkan Rp 1.000 kepada Al. Ling terkekeh-kekeh. Penumpang lain tidak jadi meminjam. Kasihan petugas, yang menatap sampai menetes air liurnya.

Sebulan berselang, hampir di semua jembatan halte sudah diproduksi dan dijajakan Kursi Pipa dengan banyak nama. TransChair, Kursi Busway, Pipa Trans. Bentuk dan corak beragam. Ada yang dengan tali bisa diatur layaknya tali tas, ada juga yang pipanya dibungkus busa untuk kenyamanan pengguna.

Coba bayangkan. Sejak itu penumpang busway menikmati berayun-ayun dalam busway. Ayun ke depan dan ke belakang mengikuti irama gas dan rem, sesekali berayun menyamping. Tetap kasihan petugas, yang tetap hanya menatap sampai menetes air liurnya karena harus tetap berdiri saat tugas.

***Berayun-ayun…..pada tangkai yang lemah…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: