ANGGAP NEGERI-MU ADALAH RUMAH BOSS-MU

17 Apr

Reff:
“Gue kira orang-orang yang ke bandara naik turun pesawat tuh orang pinter! Orang disiplin! Yang bisa jadi contoh kebanggaan wajah bangsa!”

Waduh, Al risih deh kalau Ling lagi ngomel-ngomel kayak begini. Di tempat umum, dekat loket bus Damri di terminal 2F bandara Soetta.

Sejak tiba di bandara Hasanuddin 4,5 jam yang lalu Ling memang sudah memperlihatkan tanda-tanda muak. Tanda-tanda itu muncul sedikit demi sedikit. Biasanya, pertama mata Ling pasti melihat suatu kondisi yang tidak seharusnya. Terus, Ling akan diam dan memperhatikan lagi sekeliling. Lalu, wajahnya mulai berubah warna. Kuning, biru, hijau, merah, ungu. Walahh repot nih, Al berusaha mencairkan secepat mungkin, membuat wajah Ling normal sebelum fase kedua.

Saat ini Al tidak berhasil. Pertama, antrian masuk bandara sedang padat. Al melihat ke depan sambil pelan-pelan maju mendorong Ling. Ling memandang berkeliling dan pandangannya berhenti pada seorang bapak berpenampilan oke banget. Rambut klimis berminyak, berjas, berdasi dan bercelana panjang.  Tampaknya sedang menunggu taxi. Ia berdiri sedang makan sesuatu yang dibungkus alumunium foil. Selesai makan, masih sambil mengunyah, ia mengeluarkan selembar tissue dan
membersihkan sekitar mulutnya. Eh, belum selesai. Bapak rapi itu juga minum segelas air mineral merk terkenal di Indonesia.

Nah setelah kepentingan dirinya selesai, habis makan sampah dibuang. Tepatnya dilempar dicampakkan begitu saja ke tepi jalan dekat ia berdiri. Ling mulai geram. Komentarnya saat itu hanya,”Welehh ini
bandara internasional, booo….tapi kelakuan sama ajah ya kayak di stasiun dan terminal.” Sambil memperlihatkan tiket dan masuk bandara untuk prosedur selanjutnya.

Terus, di ruang tunggu, Ling kebelet pipis. Ling harus keluar cukup jauh karena tidak ada toilet di dalam ruang tunggu bandara ini. Di dalam area toilet yang cukup penuh, Ling menunggu. Lama sekali
sementara di pintu sebelah sudah pengantri ketiga masuk. Di dalamnya terdengar suara repot seorang ibu mengurus anaknya. Ah pantas lama.

Beberapa saat, pintu di depan Ling terbuka. Ibunya keluar lebih dulu tapi tiba-tiba anak berkucir pita biru, umurnya perkiraan Ling sekitar 6 tahun itu, kembali lagi mendekati WC. Rupanya ia tertarik dengan
alat bilas berbentuk pipa kecil menyembul ujungnya bisa muncul air.

Anak itupun menuju samping WC dan memutar tombol air pada putaran penuh. Syuuurr….Air men-syuurr ke arah Ling yang sudah selangkah masuk. Sang ibu yang melihat karena ingin mengajak anaknya keluar dengan santai berkata,”Eh, eh..jangan begitu nak. Maap ya Jeng, maklum anak kecil.” Dan mereka melenggang keluar tanpa ganti rugi.

Wajah Ling hijau. Lebih karena kalimat dan kelakuan sang ibu, bukan perbuatan anaknya. “Pantes anaknya begitu!” Ling melampiaskan kesalnya setelah kembali di depan Al dengan sepotong baju bagian tengah basah.

Tanpa harus ditanya, Al langsung mendengar kisah selengkapnya. “Sabar, ya. Sabar.”
“Aaaapaaaaa!??” Gaya kaget sinetron. Tapi ini sungguhan.
Jadilah pembahasan panjang lebar tinggi sepanjang menunggu naik pesawat, dalam kabin, sampai tiba di Jakarta.

Perjalanan 1 jam 10 menit Makassar – Jakarta. Al dan Ling mengunjungi toilet bandara Soetta sebelum lanjut dengan bus Damri. Saat itulah Ling berwarna merah ungu. Antri lagi. Ling melihat rombongan ibu-ibu cuci muka bahkan mengangkat kaki untuk dibasuh di wastafel. Air menggenang di sekitar wastafel dan lantai. Penjaga toilet pasrah.

Ulang ke reff:
“Gue kira orang-orang yang ke bandara naik turun pesawat tuh orang pinter! Orang disiplin! Yang bisa jadi contoh kebanggaan wajah bangsa”

Lagu itu dilanjut dengan, “Coba kalau mereka itu datang ke rumah pembesar atau boss mereka. Pasti mereka jauh lebih sopan daripada di sini. Ga berani buang sampah sembarangan di rumah boss! Minta maap menyembah karena kelakuan anaknya membasahi baju boss! Ga berani seenaknya di wastafel rumah boss! Ya ga, Al?”

“Iya juga ya, Ling. Bagus juga ide elo. Harusnya di tiap tanda ditulis: Toilet Boss Mu. Wastafel punya Boss. Rumput Boss, dilarang buang sampah di sini.”

“Hahaha,” tumben Ling tertawa begitu cepat. Padahal Al hampir ga sanggup terus berada di samping Ling yang sedang panas tinggi.

***Yuk, naik Damri punya Boss…

2 Responses to “ANGGAP NEGERI-MU ADALAH RUMAH BOSS-MU”

  1. yulink 17 April, 2011 at 16:41 #

    edian… setuju banget ling… sekarang kan jargonnya maskapai penerbangan adalah
    “Now everyone can fly” jadi ga peduli pinter atau ga pinter, semua bisa naik pesawat.
    gini deh akhirnya, ga tau etika, disiplin dan kebersihan. seenaknya sendiri deh pokoknya.
    kalo budaya Indonesia masih kayak gini, jamin deh mau 10 th, 20th, 100th, atau 1000th lagi, ga akan maju.
    start it from our self. hidup disiplin.

  2. Gani 24 April, 2011 at 18:39 #

    Sekarang nih malahan ada anak2 mengemis dan yg minta sumbangan di area pengantar menunggu. IMHO, di terminal 2 Bandara Internasional Soekarno Hatta sangat tidak nyaman dan tidak secure dg kondisi ini. Layout Terminal 3 tampaknya lebih secure untuk antisipasi yg tdk berkepentingan berkeliaran terlalu jauh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: