CUCI CETAK FILM

24 Apr

Pernah merasa de javu? Tapi ini bukan. Beberapa tahun kemudian Al dan Ling kembali berada di taxi menuju Samarinda…. Ling memang “pelor” alias “nempel molor” di setiap perjalanan dengan kendaraan. Ya iya lah, kalau diajak jalan kaki kan ga mungkin tidur. Hehehe…

Yang berbeda kali ini Al sudah memegang kamera digital dan siap mengabadikan momen dan keindahan ciptaan NYA maupun hasil cipta kreatif insan Indonesia. Taelaa…

Al iseng sendirian dan membuka pembicaraan dengan sopir taxi.

“Pak Sopir, Bapak asli Samarinda atau Balikpapan, Pak?”

“Saya asli Jawa, Mas,” jawab pak pengemudi, Suripto, namanya tercetak di tanda pengenal.

Yayaya…basa basi banget, padahal ga usah ditanya juga sudah bisa menyimpulkan.

“Pak, nanti setelah lewat jembatan Samarinda, berhenti sebentar ya saya mau foto-foto jembatan dari jauh,” Al meminta.

“Ya, boleh, Mas.”

“Sekarang foto memfoto ga seperti dulu ya, Mas. Jepret pret pret terus ga perlu dicuci udah bisa dilihat hasilnya,” pak Ripto menyambung.

“Nah ini menarik, Pak. Bicara tentang cuci cetak foto dengan kamera bukan digital, proses awalnya “mencuci” itu untuk pembuatan klise dari rol film setelah dikeluarkan dari kamera.”

“Dari klise itu, Bapak bisa lihat dan pilih yang Bapak ingin untuk dicetak,” Al ingat betul proses mencuci ini tidak lebih menarik daripada mencetak foto.

“Jadi kalo Bapak dengar ada yang bawa klise ingin mencetak foto mungkin untuk pas foto KTP atau keperluan lain, tapi bertanya: mau nyuci foto berapa ongkosnya? Itu ga tepat karena yang dimaksud adalah mencetak foto”.

“Begitu yo, Mas. Yayaya,” pak sopir mungkin juga sudah tahu tapi berusaha menanggapi sesuai pelajaran sopan santun, di pelajaran PPKN Kelas 6 Bab V.

“Contoh lain malah saya ingat batul pernah nonton tayangan televisi, Pak. Waktu itu drama remaja sinetron versi TVRI tahun 80-an. Salah satu episode memperlihatkan tokoh seorang fotografer yang gagal.”

“Saat itu sang tokoh secara emosional mengeluhkan hasil jepretannya yang kurang memuaskan. Cara aktor itu menunjukan kekesalannya, secara demonstratif dia membuka kamera dan mencabut rol filmnya. Menerawangkannya ke angkasa, seolah-olah dengan cara itu terlihat bahwa hasil jepretannya jelek. Terbayang ga, Pak?”

“Haha, yayaya, ga terlihat yo, Mas.”

“Bener banget, Pal. Rol film yang baru dikeluarkan dari kamera, artinya belum dicuci. Kalau belum dicuci berarti yang tampak hanya warna hitam.

Jadi, tidak mungkin kita bisa melihat apapun di sana. Proses cuci film akan ‘membersihkan lapisan hitam’ tersebut hingga muncul hasil yang sudah bisa diperkirakan bagus atau tidaknya jika dicetak nanti.

Itupun baru perkiraan, belum tahu bagaimana detail hasil cetaknya nanti.”

Sementara kendaraan terus meluncur di sepanjang jalan berjarak kurang lebih 110 km itu. Sudah hampir 2,5 jam. “Sudah tercium bau udara Samarinda, Ling. Bangun….”

Ling mengangguk-angguk masih dengan gaya ngantuk. “Gue mau foto Jembatan Mahkota ya sebentar.”

“Mahkota? Ohh, oke,” Ling mulai duduk lebih tegak daripada posisi sebelumnya. Langsung memegang smartphone-nya dan mencari “Mahkota”.

“Ohh, Mahkota itu singkatan dari Mahakam Kota,” Ling menemukan informasinya dan mulai membaca dalam hati.

Ini yang dibaca Ling: Jembatan Mahakam Kota atau Mahkota I adalah sebuah jembatan yang dibangun di atas alur Sungai Mahakam yang menghubungkan kawasan Samarinda kota dengan wilayah kecamatan Samarinda Seberang.

Ling meng-klik klik lagi dan membaca link terkait dengan Mahkota yaitu tentang Mahulu.

Mahulu adalah singkatan dari Mahakam Ulu nama sebuah jembatan di Kota Samarinda yang melintang di atas sungai Mahakam selain Jembatan Mahkota I (Mahakam Kota I) yang dibangun pada tahun 1980-an dan Jembatan Mahkota II (Mahakam Kota II) yang saat ini sedang dalam pengerjaan. Jembatan dibuat untuk menghubungkan kecamatan Sungai Kunjang dan kecamatan Samarinda Seberang. Jembatan ini memiliki panjang 789 m (belum termasuk jalan pendekatnya), lebar 11 m dan tinggi jembatan dari permukaan air 18 m.

Al baru masuk dan menutup pintu taxi,

“Sudah, Pak. Lanjut.”

“Eh, Al. Nti lewat Mahulu juga ya, difoto. “

“Mahulu? Apa tuh?”

“Yee, tumben ga tau.”

Al sebel pastinya, terlihat dari tatapannya. “Elo mending tidur lagi deh, Ling”

Hehehe…

***Jepret terus…kapan cetaknya….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: