NEW NORMAL = BERTAHAN HIDUP

30 May

PEMERINTAH Indonesia akhirnya menyerukan kebijakan “New Normal” alias Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) sebagai tindak lanjut Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Kebijakan itu diambil sebagai langkah agar roda perekonomian di NKRI ini tetap bisa berlangsung.

“Wah gawat nih, kita akan dibiarkan berkompetisi ala seleksi alam, “survival of the fittest” seperti theori Darwin”, ujar Ling dengan kalap

“Hehe sabar Ling, kayaknya lo selalu anti dengan segala yang diputuskan oleh Pemerintah, dulu waktu mau diterapkan PSBB protes, sekarang begitu PSBB selesai di ganti New Normal, protes lagi, ada masalah apa sih sebernya?” ujar Al sambil mengatur kamera laptopnya agar wajahnya nampak proporsional.

“Iya harusnya pemerintah itu menetapkan New Normal itu saat grafik kasus positif Covid-19 sudah ada gejala menurun” ujar Ling mengatur HP nya landscape

“Emangnya sekarang angka kejadian postif di Indonesia masih terus naik?” tanya Al

“Wah lo pura-pura gak tau ya, coba lihat di grafik resmi yang ada di internet, bandingkan dengan negara-negar lain, ada yang grafiknya sudah menurun, di Indonesia masih cenderung naik, belum ada tanda-tanda turun” ujar Ling

Al segera merespon, “Begini Ling, membandingkan dengan negara lain boleh-boleh saja, tapi perlu diingat juga tentang perbedaan jumlah penduduknya, penyebaran penduduknya, dan juga yang penting : kasus terkonfirmasi positif corona-19 itu baru bisa dinyatakan setelah dilakukan uji laboratorium”

“Iya rapid test itu kan? Sudah banyak kok yang sekarang dilakukan test di seluruh Indonesa”, sahut Ling

“No no Ling, Rapid test itu bukan test untuk menentukan apakah seseorang terjangkit virus covid-19, itu hanya deteksi awal, mengingat untuk melaksanakan test keberadaan virus membutuhkan waktu dan peralatan laboratorium yang lebih khusus”, jawab Al

“Test PCR atau swab test itu pada awalnya hanya tersedia di Jakarta dan ibukota Provinsi, dapat dibayangkan berapa waktu yang diperlukan untuk mengambil sampel dari orang, menyiapkan sampel tersebut, membawa ke laboratorium pemeriksaan. Sehingga diperlukan waktu untuk akhirnya dinyatakan apakah orang tersebut positif atau negatif terjangkit virus. Dan waktu yang diperlukan bukan dalam menit atau jam, tapi dalam hitungan hari lho” lanjut Al

“Wah gitu ya, mahal gak sih swab test itu?” tanya Ling penasaran

“termasuk mahal ling, bisa 2 juta Rupiah untuk satu kali test”,ucap Al

“Tapi begini Ling, Presiden kita telah menargetkan 10 ribu pemeriksaan PCR setiap harinya, dan terus berupaya keras menyediakan laboratorium ke seluruh wilayah Indonesia, sehingga upaya ini terus berkejar-kejaran dengan menyebarnya virus itu sendiri.” sambungnya

“Akibatnya, jika kita masih mengandalkan grafik resmi, sebenarnya itu adalah kejadian masa lalu, sementara saat ini bisa jadi sudah ratusan ribu orang terkena kasus positif namun mereka belum sempat di test laboratorium, dan mungkin juga sebenarnya dengan jumlah sebanyak itu, sudah dalam kondisi puncak.” Al menarik nafas.

“Wah jadi keputusan memberlakukan New normal bisa saja sudah tepat kalau menggunakan asumsi bahwa sudah banyak sekali orang yang positif ya Al” tanya Ling

“Betul, positif bukan berarti dia mendapat gejala dan bahkan menderita lho ya, semua tergantung seberapa besar antbodi orang itu mampu melawan virusnya.” Jawab Al

“Semakin banyak yang sudah terpapar virus dan tubuh mampu melawannya, justru akan semakin baik, karena kalau lo juga dengar istilah Herd Immunity, itu adalah kondisi dimana penyebaran virus dapat berkurang karena “terhalang” penyebarannya oleh orang yang sudah kena sebelumnya dan sanggup bertahan,” Al meneruskan

“Masih saja ada orang yang nampaknya gak paham harus saling mejaga jarak supaya tidak tertular” ujar Ling

“He he, lo jangan ikut-ikutan jengkel atau kesal dengan orang-orang yang bandel yang tidak menerapkan social distancing. Biarkan saja demikian, kita doakan saja semoga mereka adalah orang-orang yang selalu sehat, bugar, memiliki antibodi yang baik, sehingga kalaupun terpapar virus, dapat melawannya dan akhirnya menjadi “pelindung” untuk tersebarnya virus lebih jauh” kata Al

“Dalam situasi seperti ini justru harusnya PSBB dan upaya pembatasan lainnya adalah lebih diutamakan kepada mereka yang memiliki antibodi lemah, kesehatan buruk, atau mereka yang merasa tidak memiliki kebugaran yang cukup baik. Mereka yang masuk golongan ini harus di jauhkan dari segala sumber virus apapun bentuknya.” Sambung Al

“Jadi benar dong ya istilah New Normal atau AKB harusnya adalah Bertahan hidup, ya kan?”, Ling menimpali

“Survival of the fittest?, istilah itu bisa jadi benar, namun jangan diartikan sebagai sesuatu yang mengerikan, tapi bagaimanapun hidup memang perjuangan.” Pungkas Al ***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: