BERBURU TA’JIL

3 May

MENJALANKAN ibadah Puasa Ramadhan jauh dari rumah dan keluarga adalah kebiasaan yang sudah sering saya lakukan hampir setiap tahunnya. Itulah konsekuensi jika saya memutuskan mencari penghasilan dengan bekerja pada perusahaan orang.

Bagi saya pribadi suasana Ramadhan tidak ada bedanya dengan bulan-bulan lain. Jika ada yang menyebutkan bahwa Ramadhan adalah bulan dimana kita berlatih mengendalikan hawa nafsu, justru bagi saya Ramadhan adalah Bulan “Pertunjukan”nya, dimana latihannya saya lakukan pada bulan-bulan lainnya sepanjang tahun. Iya dong, mosok latihannya hanya sebulan selebihnya ngapain dong?

Sayangnya saya bukan pemilik usaha, karena bagi saya bulan saat dimana kebanyakan orang menjalankan puasa jelas-jelas mengurangi produktivitas usaha saya, bagaimana tidak? Jam kerja berkurang, jauh melebihi jam kerja yang telah disesuaikan.

Pagi hari walaupun Jam kerja ditentukan lebih awal, namun tetap saja suasana “kantuk” masih membayangi hampir semua orang di kantor, lalu menjelang siang kami para karyawan sudah berada di mesjid sebelum Dzuhur tiba, dan setelah shalat zhuhur saya berani bertaruh semua mesjid dekat kantor saya pasti penuh dengan hamparan manusia lemas yang “berbaring sejenak”. Apalagi ba’da Ashar, semua pegawai kurang asupan makanan itu ingin segera pulang untuk menyiapkan Buka Puasa bersama keluarga. Coba sudah berapa jam terpotong untuk hal-hal tersebut. Oh, ya bagi yang tidak berpuasa, mungkin ada penyesuaian tersendiri dalam menghadapi ritual makan siangnya, well itu bukan urusan saya.

Nah, bagi saya yang tinggal sendiri, semua hal tersebut bukan merupakan problem serius, mau sahur tinggal ke warung dekat kos-kosan, mau buka puasa tinggal mencari satu mesjid diantara beberapa mesjid yang kerap menyediakan menu buka puasanya. Tidak perlu harus pulang terburu-buru dari kantor guna menyiapkan segalanya.

Dari sisi pengeluaran juga menjadi lebih irit, karena praktis jika saya buka puasa di mesjid yang menyediakan menu buka puasa, berarti pengeluaran saya bisa diselamatkan.

Di sekitar tempat kos saya, ada 3 mesjid yang memiliki karakter masing-masing, Mesjid An-Nur sebuah mesjid yang paling besar diantara dua mesjid lainnya, agak jauh dari tempat kos, namun dekat dengan kantor, oh ya saya memilih tempat kos yang dekat dengan kantor yang bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Di hari-hari kerja, saya lebih nyaman bekerja melebihi jam pulang kantor yang sudah di tetapkan, dalam hal ini berarti Mesjid An-Nur menjadi andalan saya untuk berbuka puasa.

Menu di Mesjid An-Nur cukup sederhana namun bervariasi, menu ta’jilnya berupa segelas teh manis atau sirup (disediakan es batu, namun saya selalu memilih tanpa es). Karena paket buka puasa di Mesjid An-Nur ini berasal dari donatur yang berbeda-beda, maka menu buka puasa setiap harinya selalu berganti. Bagi saya pribadi ini suatu kejutan dan hiburan tersendiri, apa gerangan isi dari kotak nasi yang ada di hadapan saya ini ya?, saya menghindari godaan melirik isi kotak milik jemaah sebelah atau bahkan membuka isinya, saya hanya dapat menduga dari beratnya kotak yang saya pegang. Saat dibuka kadang menunya nasi sayur, di hari lain chiken nugget, pernah juga gudeg, atau nasi goreng telor, semua saya santap dengan rasa syukur. Selain dekat dengan kantor, saya tetap harus menuju mesjid An-Nur lebih awal dari waktu berbuka, karena pernah terjadi saat saya datang 3 menit menjelang adzan magrib, akibatnya saya hanya mendapatkan segelas teh hangat dengan wajah kecut, untuk beranjak dari mesjid An-Nur mencari mesjid lain tentu sudah terlambat, dan akan terlihat tidak elok.

Mesjid lainnya adalah mesjid Al-Huda, nah mesjid ini jaraknya sama jauhnya jika dari tempat kos maupun kantor, namun ini mesjid yang masuk daftar lokasi saya berbuka puasa karena makanan disini berlimpah, saya tidak perlu khuatir terlambat atau kehabisan menu berbuka puasa.

Mesjid terakhir yang menjadi andalan saya adalah Mesjid An-Nuur (dengan u dobel), yang lokasinya sepelemparan kolor dari tempat kos saya, mesjid yang sering saya gunakan sehari-hari diluar bulan Ramadhan untuk shalat berjamaah, dan saat bulan ramadhan selain shalat wajib, saya pun shalat sunnah tarawih disana. Menu buka puasa di mesjid ini adalah paket “lite” dan kerap berebut dengan akan-anak kecil, entah darimana saja anak kecil sebanyak ini muncul. Saya yang sudah dewasa ini tentu akan terlihat aneh jika berebut paket buka puasa dengan anak-anak kecil yang cenderung tidak tertib dan main seruduk. Di mesjid An-Nuur ini pun karena berbuka puasa bersama anak-anak kecil yang demikian banyak dan saya meyakini tidak semuanya menjalankan ibadah puasa secara utuh, dapat dibayangkan betapa riuh dan kacau suasananya, sementara saya sebagai yang paling tua diantara kerumunan bocah tersebut harus menunjukkan sikap santun dan tawadlu.

Bencana Virus Corona pada bulan Ramadhan ini merupakan bencana tersendiri bagi saya, karena kini tidak ada lagi acara buka puasa di mesjid-mesjid, termasuk 3 mesjid andalan saya tersebut. Saya sudah pastikan sejak Ramadhan hari pertama, ketiganya hanya melaksanakan shalat wajib berjamaan dengan jamaah lebih sedikit. Tidak ada lagi meja panjang tempat makanan berbuka dihidangkan, tidak ada lagi kejutan menu yang akan saya santap, tidak ada keleluasaan mengambil nasi tambah, dan tidak ada keriuhan bocah-bocah berebut makanan.

Subhanallah, Ramadhan kali ini saya tetap harus merogoh kantong saku saya untuk membeli menu buka puasa di warung seperti hari-hari biasanya.***

 

Surakarta,  10 Ramadhan 1441H

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

<span>%d</span> bloggers like this: