BUMI AL LING

26 Aug

“LING, gi pain?” Suara Al di ujung kabel telepon. “Gi baca, Bumi Manusia.”

“Weiii… keren ga?”
“Bangeett. Wuah gue baru pernah baca ga bosen-bosen. Kalimatnya enak nyangkut terus. Elo ke sini ajah. Trus kita baca di kebon yuk.”
“Siapp. Mluncurrr.” Al gesit dan ga pernah menunda, sebaliknya Ling lemah gemulai santai.
Jadilah sewaktu Al sudah menunggu di bale-bale depan rumah Ling, sementara Ling masih di kamar mandi.

Al senang hati menunggu karena sudah paham kebiasaan Ling dan tentunya karena mamah Ling tahu kesukaan Al. “Tunggu ya,” katanya sambil menyuguhkan segelas yoghurt lengkap potongan buah segar di atasnya. Al serba cepat termasuk dalam makan dan minum. Maka saat Ling siap, gelas yoghurt sudah kosong.

“Wihh udah lama nunggu ya,” huuhhh kalau disuruh cepat, Ling memang menyebalkan. Al cuma mencibir. “Yuk”. Singkatnya deh ya pamitan ama mamah papah dan berangkat.

Ke mana? Ya ke Kebon. Kebon yang mereka maksud bukan kebun di belakang rumah tapi Kebon besar di tengah kota. Al dan Ling bisa berada di sana sejak pagi buka loket sampai diusir karena sudah tutup. Perjalanan dengan kendaraan umum sekitar 28 menit 53 detik. Tapi mereka hari ini berjalan kaki melenggang di area di jam bebas berkendara alias car free day. Lenggang dari mobil tapi fiuhhh manusia berpakaian olahraga dengan serba serbi kegiatannya mulai dari bersepeda, bersepatu roda, tak kurang banyak juga yang yang sedang nongkrong jajan makan dan minum.

“Ini harusnya car free hours ya, Al. Kan ga seharian.”
“Ya udah biar ajah Ling. Apa arti sebuah nama. Udah kembali ke Bumi Manusia ajah.” Kata Al buru-buru.

“Al, kenapa sih Pramoedya ditahan karena menulis?”
“Ga tau ya, gue juga ga ngerti. Cuma katanya tulisan Pram menimbulkan keresahan, dan mengandung ajaran komunis semacam itulah.”
“Mengandung suatu ya Al. Ga halal gitu ya”
“Hahahaha dasar!” Al mengetuk kepala Ling, sebel.

“Minke, Nyi Ontosoroh, itu orang-orang yang dikenal Pram atau reka-reka cerita ya Al?”
“Hmmm…”
“Kalau mereka orang-orang yang pernah ada, kemudian Pramudya menulis menggubah sedikit, kehidupan mereka di jaman penjajahan sangat menarik ya. Tapi kalau Pram ga kenal, wah hebat sekali imajinasinya apalagi ditulis saat dia ditahan pula!” Suara Ling tumben bersemangat sekali membahas sebuah tulisan. Al memandang Ling dengan kagum.
“Ck..cckk..cckk..hebat sekali pengaruh buku itu buat elo ya, Ling.”
“Iyah Al, gue kalo baca buku yang bahasanya loyo, alurnya ga menarik sejak bab-bab pertama udah ga gue terusin deh. Tapi tulisan Pram ini ya, sejak awal tarikannya terasa kuat. Bahasanya seperti saling menggigit dan mengikat. Isinya penuh pesan tapi ga menggurui. Kayaknya jaman itu dekat sekali bahkan gue serasa ada di sana.”

“Loe merasa jadi siapa di situ?”
“Wahahaha hehehe…mmm iya juga siapa ya ga tau ya. Nyi Ontosoroh itu wanita hebat. Sanggup menerima penderitaan dan merubahnya jadi pelajaran. Tapi penderitaan tetap mengintai. Wuah sangat mengharukan, Al. Dalam penderitaannya Nyai tetap memancarkan sinar perjuangan.”

“Sayangnya anaknya Nyai ga mewarisi ketangguhan ibunya ya.”
“Iya Al, tapi itu juga membuat novel ini sangat mengguncang. Rasanya penjajahan yang dikisahkan bukan tentang perang darr derr dorr gitu tapi penjajahan yang menghancurkan jiwa. Penjajahan batin. Sekuat apapun pribumi melawan, akhirnya kalah juga!”
“Ah loe harus terus baca semua tetraloginya, Ling. Nanti gue pinjemin yang selanjutnya. Anak Semua Bangsa.”

“Okeh, okeh.”
“Eh Ling, hebatnya lagi, Pramudya ditahan sebagai tahanan politik hampir separuh umurnya mungkin lebih ya. Tapi bisa menulis dan tau situasi yang berkembang di luar pada masa itu.”
“Iyaya. Mungkin Pram punya sahabat-sahabat dan bersurat-surat?”
“Ga tau, Ling. Nanti kita cari ya mungkin ada penulis yang menulis tentang Pramudya.”
“Yuk.”

“Buku ini katanya akan difilmkan lho Ling.”
“Ohya? Ah biasanya buku bagus kalo difilmkan jadi kurang gimanaaa gitu yaa.”
“Moga-moga ini tetep bagus, Ling. Sutradara dan bintangnya idola kita. Garin en Bang Dedy.”
“Oooo sip sip..taelaa kayak akrab bener ya ama mereka”.

“Eh Ling, Bumi Manusia pernah dipentaskan lho.” Al sedang browsing dengan telepon pintarnya. “Nih Ling, Bumi Manusia dengan tokoh utamanya Nyai Ontosoroh dipentaskan dalam bentuk teater pada bulan Desember 2006 di 12 kota secara serentak. Padang, Lampung, Bandung, Semarang, Solo, Jogja, Surabaya, Denpasar, Mataram, Makassar, Kendari, Pontianak. Pementasan Nyai Ontosoroh ini sekaligus merupakan satu ajang berkesenian untuk memperingati perayaan Hari Hak Asasi Manusia dan Hari Perempuan Indonesia yang kedua-duanya jatuh pada bulan Desember.”

“Ouww…wah ketinggalan info ya kita.”
“Nyai Ontosoroh adalah simbol perlawanan terhadap kesewenang-wenangan kekuasaan, terhadap harga diri sebuah bangsa. Yang cukup menonjol pada naskah Nyai Ontosoroh adalah proses pembangunan karakter berdaulat yang mampu menghadapi dan melawan kekuasaan dengan tanpa mencabik-cabik integritas perorangan maupun kelas.” Al terus membaca sambil berjalan.

“Nah ini Ling. Bumi Manusia ini juga akan difilmkan. Sejak pertengahan tahun 2004 proses pembuatannya sudah mulai dilakukan. Pencarian lokasi sudah dimulai sejak akhir 2005. Awal 2006 proses produksi dimulai. Garin Nugroho akan menyutradarai film ini.”

“Wuahh kapan ya koq belom ada gosip-gosip di bioskop?”
“Jiahhh memangnya berani masuk bioskop?”
“Ehehehe…” Al sebel karena sering harus mengalah karena Ling sering tiba-tiba ga berani masuk bioskop. Entah kenapa.

“Udah nyampe nih, bukunya mana Ling?”
“Eeee iyaaa lupa. Ga dibawa…”

***Ciattt!! Gubraks!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: