KU GADAIKAN HOBI KU

22 Apr

“TUNGGU dong, Al. Brenti sebentar….,” Ling terengah-engah menanjak di jalan setapak jalur dago pakar-lembang. Jalur setelah menerobos gua belanda adalah jalur setapak yang dominan menanjak. Jika terlalu sering istirahat biasanya Ling tetap berhenti dengan alasan membetulkan tali sepatu atau menunjukkan ketertarikan kepada objek yang ditemuinya, “Waaah daun nya bagus yaa..eh ada kupu-kupu…”

“Ooo oke dehh…” Al menunggu. “Ini mah masih enteng atuh, Ling. Katanya mau napak tilas jalur gue naik 12 gunung tertinggi di pulau Jawa.”

“Yaaa kan ini latihannya, Al…” Hehehe… Al nyengir dan membayangkan repotnya kalau Ling diajak mendaki gunung yang ketinggiannya lebih dari 3000 meter kayak dulu Al lakukan tiap libur kuliah. Wah bisa ga nyampe-nyampe dehh.

“Yuk, jalan lagi.”

Delapan menit ke depan, ganti Al berhenti berjalan. Tentu bukan karena kelelahan tapi ada objek menarik untuk difoto. Ling senang menunggu sekaligus bisa istirahat tapi kadang sebel juga kalo lagi semangat tiba-tiba berhenti. Jepret..jepret..prett.. Al menunjukan hasil foto dari lensa barunya. Ling melirik hasil fotonya dan dengan kejam dia bilang,”Bagus…tapi ga ada bedanya ama hasil foto dari kamera handphone gue.”

Hahaha … Meskipun Ling becanda, Al dongkol pastinya. Al serius menjelaskan perbedaan dengan lensa baru dan mahal ini hasilnya lebih fokus dan sebagainya. Ling manggut-manggut saja karena Ling sebenarnya mengakui hasil jepretan Al itu menarik dan unik, tanpa Ling mengerti apa lensanya. Dan menurut Ling itu bukan dari nilai lensa tapi dari kemampuan Al melihat keunikan sebuah objek, sudut pengambilan gambar.

Al memang hobi fotograpi. Ya gitu dehh..hobi foto-foto termasuk hobi turunannya seperti para fotografer lain. Yaitu beli lensa terbaru yang harganya berkejar-kejaran dengan jumlah dana yang baru terkumpul di tabungan. Begitulah hobi ya. Kadang ga lohis. Ada peng-hobi burung bersuara indah sanggup beli burung seharga ratusan juta bahkan milyar. Atau pernah ya ada saat penggemar ikan lohan, arwana berharga selaut. Juga tanaman penggugah cinta yang nilainya merobek kantong. Kantong yang ga hobi dan yang ga punya cukup dana, tentunya😉.

Keberadaan hobi lekat dengan komunitas dan produsen. Udah kayak telor ama ayam, istilah Ling. Komunitas duluan apa produsen duluan. Begitu ada produk baru, lempar ke komunitas. Atau begitu ada produk baru, produsen melakukan upaya membentuk komunitas. Dalam komunitas, berlangsung review-review plus plus minusnya produk. Cara ini sangat efektif membuat anggota komunitas lain untuk memutuskan pilihan-pilihan, kena “racun”, itu lah istilah bagi para komunitas tersebtu.

Tepat saat itu, lewat komunitas peng-gowes dengan sepedanya yang ramping dan tampak ringan, pengendaranya berpakaian lengkap warna warni ceria. Mulai dari helm runcing di bagian depan, kacamata yang menempel ke pipi, baju hingga celana ketat menampakan lekuk-lekuk dan tonjolan indah, setengah indah, sampai yang sama sekali tidak indah yang penting pede wes..wesh…weshh. Ehh iyaa sepatunya juga silau mengkilap. Belum lagi perlengkapan tas mungil dan botol minum yang dilengkapi selang yang langsung terhubung ke mulut khas peng-gowes.

Di stang sepeda mereka juga kerap nangkring GPS keluaran mutakhir sedang aktif memastikan “path” plan route mereka masih sesuai rencana, lengkap dengan perhitungan kalori yang sudah dihabiskan semenjak memulai menggowes tadi.

Sreeett….salah seorang berhenti dan turun. Ah ternyata ini acara rekreasi setelah lulus SMA, terbaca di kaosnya: Go..go..go wis SMA😉. “Mas, mas. Tolong fotoin dong.” Dia mengeluarkan handphone dan menyerahkan pada Al. “Pake ini juga ya, Mas. Buat aplod ke pesbukh.”

“Oooh…okeh,” Al menunggu semua peserta siap difoto dengan gayanya yang standar. Berdiri berjajar di antara sepeda, ada yang bergaya tangan di pinggang, bersilang tangan di depan dada, dan mengangkat tangan pose kepalan ‘merdeka’.

“Makasih, mas,” katanya pada Al. “Eh ada warung. Minum sambil nunggu yang ketinggalan yuk,” ajaknya ke kelompoknya, bukan kepada Al dan Ling. Tapi Ling mencium gelagat bakal ada yang jadi cerita maka dia mengajak Al ikut nongkrong. Al ga mau cari gara-gara tapi ikut sambil jepret..jepret di sekitar warung nasi merah sepanjang jalan ini. Ling hanya pesen teh hangat segelas.

Obrolan siswa-siswa baru lulus itu membosankan buat Ling. Tentang harga-harga sepeda fixie, model-model koleksi para milyuner, tentang kostum dan aksesoris yang mereka pakai, di mana belinya dan mau beli ini beli itu. Lalu di sela obrolan kemewahan itu, mereka juga saling dorong minta dibayarin. “Loe yang bayar ya…” “Wah, gue lagi bokek nih.” “Nah lohh…siapa yang ngajak tadi?”

***……hahaha…Ling sarankan tukang warung terima gadai fixie…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: