AYO! MENABUNG AIR

4 Sep

“PANAS terik gini koq bawa payung sih, mah?” Padahal Ling tau mamahnya wajib membawa 2 buah benda ke manapun pergi. Sebotol air minum dan payung. “Eh, mamah bawa dompet kan?’ Hehehe.

“Bawa dong. Kayak ga tau ajah cuaca Bogor kan kalau sudah panas begini nanti sore mendung terus hujan.”

Ini hari raya. Lebaran. Ling memenuhi janji membawakan Al yoghurt sekalian silaturahmi. Mamah Ling memang teman mamah Al. Tuh, sekarang sudah ngobrol sambil colek colek. Ihh sabuunn kalee ya dicolek. Ayah Al bergeser ke ruang tengah. Baca koran sambil nonton TV dengan Al. Kalau ayah Ling ikut, mereka juga saling colek. Hihihi.

Jadi, ayah, Al dan Ling nonton TV. Ling tentu tidak punya kesempatan nonton doraemon di sini karena Al selalu nonton berita. Sama seperti ayahnya. “Weeei weii kenapa tuh, Al? Hahaha seru banget tuh, Al. Koq rebutan air sih?” Tepat saat itu Ling melihat tayangan sekelompok warga di Jakarta berebut selang dan air di ember tumpah dengan bebasnya.

“Ih mereka lagi krisis air taukk! Kemarin tanggul air di daerah Kalimalang jebol.”

“Lahhh kalo berebut kan malah habis airnya tumpah, Al. Lagipula mereka juga sambil ketawa-tawa tuh. Gue kira lagi main air di hari lebaran.”

“Persepsi loe keleru, Ling.”

“Wah mulai deh keluar tuh persepsi. Daripada persepsi mending minum pep**.” (Tuuuttt…sensor ga boleh menyebut merk yang belum bayar biaya sponsor ;-)).

“Ling, coba dari mana sumber air di Bogor?’

“Dari sungai. Makanya kata mamah, air harus dimasak dulu. Supaya gas cepet habis.”

Wakakakak. Bukan Cuma Al yang ngakak. Ayah Al dan mamah Al juga, yang kebetulan lewat mengambil air minum. “Yang benar tuh, dari dapur, Ling,” kata beliau sambil menawarkan Ling.

‘Hehehe, bener tuh, tanteee. Terima kasih.”

“Salah, salahh semuaa. Sumber air di Bogor tuh banyak, Dari gali sumur, dari mata air di perbukitan juga dari sungai-sungai yang masih jernih.”

“Mmm enaak. Mau, Al?” Ling menyeruput minumnya, air putih. Hehehe.

“Ga. Nah kalau di Jakarta? Di daerah “pedalaman” mungkin masih bisa ngebor atau bikin sumur. Tapi di bagian pesisir dan bagian pusat kota, air sumurnya udah gak bagus, kotor. Sungai-sungai nya juga tercemar.”

“Kasihan ya, Al.” Al melirik sedikit untuk memastikan Al serius. Ling nyengir.

“Pusing amat sih, Al. Kan Pemerintah ada tuh PDAM atau Perusahaan Daerah Air Minum, wajib menyediakan air minum buat warga nya.”

“Iya tul. Tapi, yang sedang gue bahas ini sumber airnya. Tau gak dari mana sih sumber air Jakarta itu? Ga seperti di sini, Ling. Air Jakarta ternyata sebagian besar bersumber dari daerah di luar Jakarta, dari waduk yang dibangun di Jatiluhur, Purwakarta pada tahun 1962. Waduk itu semula dibangun untuk pembangkit tenaga listrik dan juga irigasi di bagian utara pulau Jawa. “Sisa”nya dialirkan ke Jakarta melalui saluran terbuka sepanjang 80 km ke jakarta. Nah air itu kemudian menjadi bahan baku yang dialirkan ke “pabrik air” milik PDAM Jakarta untuk kemudian disebar ke rumah-rumah penduduk melalui perpipaan.”

“Oo..coba sambil digambar. Supaya gue lebih ngerti dan kon-sen-tra-si.”

Demi dominasi didengarkan, Al menuruti kemauan Ling. Eh itu niat baik, Ling lho. Mendengarkan.

“Bayangkan ketakutan yang kemudian terjadi saat jebolnya saluran yang membawa air dari jatiluhur, yang membuat pasokan air ke Jakarta terhenti, apa yang kemudian terjadi bagi penduduk Jakarta?” Al terus menjelaskan dan mencoret-coret siaran ulangnya tentang waduk dan perpipaan tadi.

“”Pabrik air” tidak bisa mengolah air bersih karena tidak ada bahan baku nya, kan.”

“Anak pintar….tumben. Hehehe.”

Ling mendengus. “Emang gak ada sumber air lain?”

“Ada sih. Tapi lagi-lagi itu dari luar Jakarta. Tangerang, dan itu pun kurang dari separo kebutuhan total Jakarta.”

“Kalau dari Bogor gimana? Kan banyak air?”

“Ayah, Jakarta kenapa ga beli air dari Bogor?” Al dan Ling menunggu ayah Al menurunkan korannya.

“Dulu Jakarta pernah juga “beli” air dari Bogor. Sekarang sudah tidak lagi, karena setiap daerah seperti juga Tangerang punya prioritas untuk menjual airnya kepada penduduknya terlebih dahulu. Masyarakat yang gak mendapat air tentu tidak mau tau. Yang mereka inginkan adalah PDAM harus mengatasi persoalan tersebut. Khusus DKI, PDAM Jakarta tidak punya kuasa pada sumber airnya. Sumber air dari Jatiluhur termasuk salurannya menuju Jakarta itu adalah milik Perusahaan Jasa Tirta, Perusahaan Pemerintah. Kalau mengambil air melalui pipa langsung dari waduk jatiluhur biayanya mencapai Triliunan Rupiah. Terlalu mahal.”

Ling antara mengerti dan setengah mengerti cuma mengangguk-angguk.

“Jadi, minggu depan kita ke Jakarta bawa air berapa ember ya, Al?”

“Hahaha…udah selesai kalee perbaikan tanggulnya.”

“Gue rasa, kita juga kurang bersyukur dan kurang persiapan sih. Kalau lagi aman, air di hambur-hambur. Ga bikin penampungan masing-masing atau di perumahan. Kalau uang ditabung, air juga donk. Harusnya mungkin ada Bank Air. Kita nih biasanya terlalu mengharap bantuan dan mudah menyalahkan orang lain. Gue rasa lagi nih ya, manusia harusnya bisa menyesuaikan dengan keadaan. Coba pikir, di negara lain yang ga punya bnayak air kan membuat kamar mandi kering, membudayakan cara bilas yang hemat. Lagian ini kan sedang diusahakan perbaikan. Jadi, dikasih bahan renungan di hari raya nih.”

Al dan ayahnya kaget denger Ling tiba-tiba berceramah. Mereka pun manggut-manggut.

Ling juga kaget kenapa dia ngomong begitu.

Ling nyengir lagi.

***Di luar sudah mendung….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: