TRANS PARAN SIH

17 Jul

ALKISAH, ini catatan suatu wawancara seorang mahasiswa yang memilih tugas akhir survey kinerja Trans Jakarta kepada pengguna Trans Jakarta.

TM (Tanya Mahasiswa): Bagaimana pendapat mbak dan mas tentang kinerja Trans Jakarta?

JM (Jawab Mbak): Sulit amat sih bahasanya?

JMS (Jawab Mas): Setuju dengan mbak

TM: Oke, begini, saya kasih lihat korannya ya mungkin lebih mudah. Banyak kekecewaan penumpang busway karena waktu tunggu sangat lama, suasana berjejal, antrian panjang, kualitas bus semakin tidak nyaman, dan sederet kenyataan buruk dalam penyelenggaraan Busway.

JMS: Ih cantik ya sopirnya pakai pakaian daerah.

JM: Bajingan! Plak! (ada nyamuk)

TM: Wah tampaknya mbak dan mas setuju ya penumpang kecewa.

JMS: Ada pepatah, daripada kecewa lebih baik kecewe.

JM: Brengsex!

TM: Duh, sudah..sudah…Saya ganti pertanyaannya. Konon pengelola Trans Jakarta memprioritaskan upaya memperpendek headway. Yaitu jarak kedatangan bus yang satu dengan bus yang lain. Sehingga penumpang tidak terlalu lama menunggu di halte. Namun lagi lagi masalah kemacetan di jalur busway menjadi kan headway itu berantakan.

JM: Bukan masalah panjang atau pendek. Yang penting tarikannya yang jelas. Sekarang nih nanti kuat nanti lemah. Kadang yang datang panjaaannng semua. Nanti yang pendeekkk semua. Kalau jumlah bus di tambah harusnya Headway akan otomatis tertata dengan sendirinya.

JMS: Setuju. Headway ga berhasil, yang pasti makin banyak bis rusak dan makin sedikit jumlah bis. Headway harusnya dipikirkan setelah jumlah bus yang beroperasi memenuhi kapasitas penumpang yang ada. Bukan headway yang ada malah headek. Itu loh, yang artinya sakit kepala….

TM: Ah akhirnya saya mendapat jawaban yang lumayan. Nah kalau tentang ini bagaimana? Saya baca ya. Kelompok Pecinta Busway menuntut transparasi anggaran kepada publik.

JMS: Ga penting. Kalo ngaku cinta tuh, ikut mengatur, bukan saran doang. Buktikan kalo pecinta sekaligus pemerhati dan punya cara jitu yang bisa dibuktikan akan jadi lebih baik. Kalau transparan sih, pasti nanti ada komentar lagi: masak iya sih…kayaknya ga gitu deh.

JM: Nah ini saya ngerti. Kalau transparan sih, salah sendiri cowok-cowok godain.

*** TM: Jiaaaaahhh, koq lebih pinter yang ga kuliah yaaa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: