MOTOR BUKAN MANUSIA

8 May

Kata bapak, kalau jalanan macet begini paling enak ya naik motor bisa menyelusup. Tapi kata Al, paling enak ya jalan kaki. Lebih cepat sampai tujuan dengan syarat dan ketentuan berlaku. Antara lain syarat dan ketentuannya adalah jalan sendirian, gak sama Ling yang suka ngomel kalau disuruh cepat-cepat atau sambil berdebat soal motor.

Motor sekarang ini bagai merajai jalanan. Lebih tepatnya, pengemudi motor merasa jadi raja di jalan raya hingga seluruh pinggir nya. Macet di jalan, motor pun naik ke trotoar. Al selalu tidak mau minggir memberi lewat pada pengendara motor yang berlaku begitu.

Brrmm..brmmm..tet..tet..tut..tut..tut..kring..kring. Lho…bunyi apa tuh? Motor naik kereta api dikejar sepeda. Hehehe ….Bukan…Itu suara motor minta jalan pada Al. Al gak mau mengalah, Ling berdering-dering.

Tet..tett..pengemudi yang SIM C nya nge-print sendiri itu membunyikan klakson motornya. Al terus berjalan gak peduli.

“Biar ajah. Ini kan trotoar, artinya tempat pejalan kaki.”

Ling berdering-dering,”Iya tapi kan kalo keserempet tetep ajah lecet, sakit.”

Nah, akhirnya mereka ber-tut..tut dan ber-kring..kring berdua. Tet..tett..klakson dibunyikan lagi. Al terus saja berjalan dan Ling dengan deringannya.

“Ling, pengendara motor itu juga dikeluhkan oleh pengemudi mobil. Menyalip dari berbagai arah, belok tiba-tiba, gak tau aturan deh. Kadang menyenggol mobil hingga tergores, atau kaca spion bergeser hingga lepas,” balas Al.

Ling bergegas berusaha berjalan sejajar dengan Al. Pada kondisi ini, Ling biasanya hemat energi. Gak nyahut atau berkalimat pendek.

“Ingat gak, Ling. Saat hujan, pengendara sepeda motor juga unjuk gigi. Entah apa yang ada dalam pikiran mereka, barangkali mereka berpikir kalau pengendara mobil tidak akan basah saat hujan, maka pengendara sepeda motor pun berhak tidak basah.

Mereka berhenti di “kolong” jalan layang atau “kolong” jembatan penyebrangan. Berhenti bukan untuk mengeluarkan jas hujan, tapi bener-bener berhenti untuk berteduh.”

Iya, Ling pernah lihat. Biasanya pengendara motor ini berteduh beramai-ramai, tanpa repot-repot menepikan motornya. Belum lagi yang tidak menemukan kolong berteduh juga ramai ramai memarkir motornya di tepi jalan “seadanya” dan pengendaranya lari ke tepi jalan untuk berteduh.

Akibatnya jalan jadi menyempit terhalang motor-motor yang parkir dan berteduh.

“Seolah pengendara motor yang berteduh berpikiran ‘Kalau saya terlambat tiba di tujuan, maka semua yang di belakang saya juga HARUS TERLAMBAT’ “, Al berteori

“Ya dibuat peraturannya dong,” Ling berdering lagi. Padahal Ling mengakui Al benar. Tapi masih berusaha melampiaskan kesalnya karena gak mau minggir tadi.

“Sudah ada, Ling.”

“Ya ditegakkan dong aturannya.”

“Contohnya inget gak di Bandung. Polisi memberi “ruang khusus” di setiap persimpangan, buat pengendara motor. Di bagian depan persimpangan, diberi ruang ber cat merah, khusus untuk pengendara motor. Sehingga mereka tidak seruduk menyeruduk di sela-sela mobil yang membuat mata sepet dan hati masygul.”

“Ya ditegaskan dong.”
Nah, jadi lambat kan perjalanan kalau begini. Mau cepat sampai karena macet, malah berdebat sambil jalan. Sementara yang harusnya menegakkan peraturan tak diketahui berada di mana.

Mungkin yang tadi meng-klakson di belakang Al dan Ling.

***Tet..Tett..Pitnah. Lebih kejam dari Pitnes.

One Response to “MOTOR BUKAN MANUSIA”

  1. Opisboi 10 June, 2011 at 00:12 #

    menarik!
    dan lebih menarik lagi, jika ada sudut pandang anak-anak yang tidak punya mobil dan hanya bisa diantar ke sekolah naik sepeda motor oleh ayahnya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: