SURAT IJIN BERJALAN

3 Apr

“Koq muka dikusut-kusutin gitu sih, Al?”

“Dikusut-kusutin? Enak ajah, emang lagi sebel tauk!”

“Ooohh…tumben. Biasanya selalu bilang sabaaarrr…berpikir positip…”

Al duduk di sisi lain dari meja yang ditempati Ling. Hmm… maksudnya, Al duduk di seberang kursi dari meja yang diduduki Ling. Eh salah…Ling sudah duduk di sebuah kursi. Di tengah ada mejanya. Nah, AL duduk di sisi lain dari meja itu, menghadap Ling. Jelas ya, kawan….

Lalu Al mulai bercerita. “Tadi gue ke sini naik angkot, terus jalan kaki, lewat tangga penyeberangan. Sebenernya di sisi mana sih kita yang kita harus ambil waktu berjalan kaki? Kalau berkendaraan di jalan raya kan di sisi sebelah kiri, apa kalau berjalan kaki masih tetep di sebelah kiri? Atau sebelah kanan? Atau bebas-bebas saja?”

Ling mengaduk-aduk yogurt yang sesekali masuk ke suapannya. “Bener juga ya. Kadang loe suka aneh-aneh tapi bener juga ya. Kalau lagi di tangga yang dua arah orang bisa ambil sisi mana ajah, kadang ribet yang turun dan naik hampir bertubrukan. Malahan yang jalan berdua bersebelahan mengambil semua porsi tangga.”

“Ah, gue senang loe dengan cepat sudah paham dan sepakat dengan gue. Kejadian langka. Sekarang gue bisa pesen kefir ya.”
“Ihhh…, udah makan nasi belum?” Ling bergidik membayangkan rasa kecut kefir.

“Iya, sudah. Kembali ke topik berjalan.” Al mencondongkan badannya menempel ke sisi meja.”Gue selalu berjalan di sebelah kiri di tangga penyeberangan ataupun eskalator. Tapi sering harus “mengalah” lantaran ada orang yang berjalan berlawanan arah namun berada si sisi yang sama. Kalau gue lagi males mengalah, kadang sengaja berhenti supaya orang yang “salah jalan” itu menyingkir.”

“Terima kasih, bik,” kata Al pada “bibik” yang mengantarkan segelas kefir rasa mocca. “Bibik” itu sebutan Ling pada pembantunya.

“Eh tapi gue terpaksa selalu mengalah kalau orang yang salah posisi itu tangan kanannya berpegangan pada sisi jembatan. Mungkin karena mereka terbiasa memegang dengan tangan kanan ya? Jadi, sekali lagi, sebenarnya ada gak sih aturan berjalan kaki harus di sebelah kiri?”

“Hehehe…minum dulu kefirnya. Kita search yuk,” kata Ling. Al paham bahwa search itu maksud Ling cari di komputer berfasilitas internet yang tersedia di kedai ini. Eh iya, mereka sedang di rumah Ling. Lantai dasar di rumah Ling merupakan kedai yogurt. Kedai J Yo, namanya.

“Yuk,” Al mengikuti Ling yang sudah beranjak dan mulai mencari informasi. Saat halaman yang dicari memunculkan ratusan pilihan, seperti biasa kita harus memilih.

Sambil menunggu, AL masih berkisah,”Coba lihat di beberapa mall, di pintu masuknya ada petunjuk untuk pejalan kaki.pintu masuk di bagi dua jalur, kiri dan kanan dengan petunjuk panah ke arah kiri dan perboden ke arah kanan, kayak rambu lalu lintas, tapi ukurannya lebih pendek dan kecil. “Masuk lewat kiri”, demikian arah panah menunjuk . Sebegitu parahnya kah orang ga ngerti di mana harus berjalan?”

Klik dan klik lagi, balik, klik lagi dan akhirnya,”Nah, ini lumayan inpormatip,” Ling yang logatnya jawa barat mungkin lebih enteng untuk mengganti “f” dengan “p”.

“Menurut sejarah, di Inggris, kebiasaan orang membawa pedang di tangan kanan dan menggantungnya pada sarung pedang di pinggang sebelah kiri. Agar mereka bisa langsung menggunakan pedangnya dengan tangan kanan pada saat berpapasan dengan orang/musuh. Maka akan lebih mudah jika mereka berjalan di sisi kiri. Berjalan di sisi kiri juga menghindari sarung pedang mereka saling bersenggolan jika sedang berjalan. ” Ling membaca.

“Nah, betul kan. Gue belum baca ajah udah tahu jalan tuh harus sebelah kiri. Pasti informasi ini dibuat setelah melihat cara gue,” Al ga mau kalah.

Sebelum Ling nyahut, Al buru-buru ngomong lagi, “Eh tapi kalau gue jalan di jalan raya yang ramai dan tidak ada trotoar, gue lebih memilih berjalan di sisi kanan, Ling. Jadi berlawanan dengan kendaraan yang melaju, kecuali kalau jalan nya satu arah. Ngerti kan, supaya sembari berjalan kaki, gue bisa tetap waspada dengan laju kendaraan yang datang dari arah depan.”

“Eh, eh…,” Al melanjutkan seperti khawatir ga kebagian. “Kalau begitu, aturan berkendaraan di sisi sebelah kiri juga bermula dari kebiasaan berjalan kaki, donk. Koq kenapa tidak ada aturan baku untuk berjalan kaki ya?”

“Karena belum ada dinas perhubungan jalan kaki,” kata Ling.

“Ah yayaya, jawaban tepat.”

“Ya salah lah…”

Hehehe … Al dan Ling memang membingungkan. Jarang banget setuju dengan mudah.

“Tapi kalau di luar negeri, setir mobil di sebelah kiri lho. Berarti jalan di sisi kanan donk.”

“Ah biar ajah luar negeri. Kita kan lagi bicara soal dalam negeri.”

***Mungkin perlu: “Surat Ijin Berjalan”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: