SESAMA RAKYAT HARUS NGETEM

27 Mar

“Pir…., jalan pir…., lama banget sih..” ujar seorang Bapak sambil celingukan di jendela bus. Tepat saat Al dan Ling hendak naik. “Mana sih supirnya. Ayo jalan Bang,” teriaknya ga jelas kepada siapa. Lha…di kursi sopir kosong koq.

“Sang supir masih ngupi di warung pinggir jalan, sambil menunggu saatnya meluncur karena didorong bis berikutnya. Jadi, teriakan Bapak yang kesal itu pasti ‘eksyen’ supaya memicu kekesalan penumpang lain dan sama-sama berteriak.

Al dan Ling yang hapal gelagat model orang macam itu terus masuk menyusuri bus yang masih banyak bangku kosong. Mereka memilih bangku dua yang kosong saat itu ada di deretan ketiga dari depan.

Wah rupanya provokasi Bapak itu berhasil memancing kekesalan penumpang lain.”Saya dari terminal jam satu siang. Bis mulai merayap pelan-pelan. Nyampe di sini ajah udah tigapuluh menit. E..e…ee…Sekarang mosok berhenti lagi ngetem sampe satu jam”

“Mau jam berapa nyampe di Bogor nih” ujar yang lain.

“Ayok pada turun aja semua, biar tau rasa sopirnya” provokasi seorang laki laki lainnya.

“Emang klo turun trus mau naik apa? kalo bus jurusan ini banyak sih bisa milih kita” gumam ibu-ibu tua dibelakang Al.

Namun bagaimanapun, bus masih belum melaju. Sang sopir masih belum menempati tempatnya. Sang kenek masih teriak menawarkan, “ Bogor…Bogor…18 lagi..18 lagi…” Ada hasilnya, satu penumpang lagi naik.

“Kenek itu teriak lagi,”18 lagi…18 lagi…” Lho…koq ga berkurang? Apa penumpang yang barusan naik bawa kursi sendiri? “Ayo..yoo…terakhir…bis terakhir…” Hihihi … baru jam 7 malam…Ah mungkin terakhir untuk armada ini, maksudnya.

“Al, memang lama ya ngetemnya?”

“Iya, penumpang yang setiap hari menggunakan bus rute ini sudah tau kok bahwa emang bus ini akan NGETEM” sahut Al.

“Tapi kalau menunggu penumpang penuh lama sekali” kata Ling.

“Sebenarnya bus ini baru bisa berangkat karena dua sebab. Pertama bus penuh penumpang, kedua ada bus lain di belakangnya yang ‘mendorong’ bus ini. Nah mana yang lebih dulu dari dua sebab itu, maka bus akan berangkat” ujar Al.

“Oooh, jadi kalau mau cepat ya jangan naik bus ini, ya kan? Banyak pilihan, kan. Bisa estafet naik dulu angkutan umum lalu ganti angkutan umum lain”

“Tapi kan capek naik turun, belum menunggu angkutan yang berikutnya. Ongkosnya berkali-kali lipat. Belum tentu lebih cepat karena bus ini kan akan melalui jalan tol. Perhitungan waktu tiba akan sama saja. Kecuali misalnya naik ojeg,” Al matang sekali perhitungannya, terutama kalau soal ongkos.

“Ada harga ada rupa,” sambung Ling yang hapal apa yang akan diucapkan Al. “You pay peanuts you’ll get monkey”, sambung Al

“Ya, Ling. Supir kan cari makan, maklum ajah lah. Kalau mereka mau berinisiatif menambah ongkos ya mungkin bus ini bisa berangkat segera. Rakyat mau mengadu ke pemerintah? Lapor Polisi supaya supir segera maju? gak mungkin bisa lah.”

Wah, Al salah ucap. Kalimat itu menginspirasi Ling untuk melakukan sesuatu. “Permisi,” Ling beranjak dari bangkunya. “Ke mana?” Tentu pertanyaan Al langsung terjawab ketika Ling menghampiri Bapak yang sedang kesal itu dan mengulurkan tangannya, “Ongkos, Pak.”

“Lha belum jalan koq minta ongkos?”
“Ya supaya bisa jalan sekarang,” jawab Ling.
“Ya ga bisa gitu donk.”

“Ya bisa ajah donk. Kalau Bapak mau cepet kan bisa turun cari kendaraan lain. Ongkos nambah. Jadi sama, kan. Bayar ajah ongkos tambahan sekarang, nanti saya minta sopir segera jalan. Sesama rakyat, ngerti dong, Pak,” Ling edan…! Duh Al salah tingkah. Ditarik apa dibiarkan ya?

“Ya ga bisa gitu donk,” Bapak itu mengulang, kehabisan kata-kata.
“Kalau ga mau ya sudah. Tolong tunggu dan diam.”
“Heh..Anda siapa?”
“Zorro,” Ling asbun dan meninggalkan TKP kembali ke bangkunya.

“Ah beruntung sang sopir naik dan akhirnya bus bergerak walau masih kosong, “Tuh kan ada yang ndorong” ujar Al yang lega setelah sempat hening karena pening sejenak.

Koq bisa ya, Ling berlagak begitu….Al geleng-geleng.

***Yaaa namanya juga cerita….

 

One Response to “SESAMA RAKYAT HARUS NGETEM”

  1. yulink 17 April, 2011 at 16:21 #

    lucu banget😀 :D:D:D
    WkKWKWkWkWkWkkkkk
    Setuju ling, sabar emang disayang Tuhan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: