KAMERA PERTAMA AL

20 Mar

Al membatin dalam setiap perjalanannya. Seperti saat ini di Bandara Sepinggan. Kalau saja kamera masih berfungsi baik, tentu Al udah mengabadikan semua momen yang ditemukan saat itu.

“Inget kamera lagi ya?” Ling menduga. “Iya, waktu itu loe masih 8 tahun, Pakde Kumis dari Surabaya berkunjung ke rumah di Bandung. Pakde bawa kamera,” Ling hapal cerita itu dan sudah nyerocos sebelum Al nyahut. Padahal saat itu Al cuma manggut-manggut.

“Loe kalo lihat cara Pakde mengoperasikan kamera dan membidik obyek-obyek pasti berminat juga deh, Ling,” kata Al. “Coba bayangin, Ling. Waktu itu Pakde menggunakan kamera SLR merk RICOH XR500 dengan lensa standar. Tapi di mata gue saat itu, kamera itu terasa berat dan mantap, Pakde yang fotografer profesional itu terlihat sangat piawai membidik objek-objek. “

“Gantian Ling yang manggut-manggut. Al tahu kadang Ling ga ngerti pun manggut-manggut. Itu tandanya Ling sedang ngantuk. “Waktu itu ya, Ling, gue beruntung Pakde kasih kesempatan mencoba kamera itu dan mengajarkan gue banyak hal.”

Ling manggut-manggut lagi dan hanya bergumam,”Heeghh.” Ling beneran mengantuk, kawan. Jadi, Al ga mau bicara sendiri. Kebayang kan kayak di film kartun, muncul awan-awan di atas kepala Al yang terbayang lagi saat pertama kali memegang kamera berat itu. Dicobanya mengintip lewat jendela bidik. “Koq bendanya nampak lebih dekat tapi kabur ya, Pakde.” “0ooh….. atur fokusnya dengan memutar ini, kalau benda sudah menjadi satu di lingkaran tengah, artinya sudah pas,” ajar Pakde Kumis sambil memutar gelang fokus pada lensa.

“Kamera itu seperti mata kucing, kalau benda yang dilihatnya terang terlihat matanya menyempit dan kalau gelap akan membesar. Nah kalau kamu memotret objek terang maka kecilkan diafragmanya, kalau gelap besarkan,” Pakde mengajarkan dengan telaten.

“Tapi awas kalau diafragmanya kecil berarti kecepatannya lambat, harus diatur supaya tidak terlalu lambat supaya hasil jepretan tidak tampak kabur. Itu hal mendasar dalam dunia fotografi.”

“Supaya mudah, lihat saja jarum di sisi kanan jendela bidik, jarum itu harus masuk ke lubang, itu baru tepat penyinarannya”

Al juga masih ingat dengan baik pelajaran tentang ruang ketajaman yang diakibatkan oleh bukaan lensa, komposisi dan teknik-teknik lainnya.

“Sesekali Al melirik Ling yang mungkin sedang mimpi membelikannya sebuah kamera. He..he..daripada kecewa karena belinya hanya dalam mimpi, Al memilih untuk melanjutkan lamunannya karena hari yang menyenangkan bersama Pakdenya itu masih berlanjut.

Al dibelikan satu rol film berwarna yang berisi 12 exposure. Sisa hari dilewati Al dengan mencoba kamera pinjaman Pakde. Pelajaran berikutnya, rol film dibawa untuk cuci cetak. Pakde Kumis memberi komentar dan analisa terhadap hasil yang lebih baik.

Al makin semangat saat Pakde Kumis membantu mencarikan kamera bekas namun masih baik, dan setipe dengan kamera milik Pakdenya. Al bangga pada kamera pertamanya, terlebih dengan tambahan pelajaran cara mencuci cetak film hitam putih.

Ruangan gudang disulap jadi kamar gelap dan studio cetak foto. Pakde Kumis pun meminjamkan alat-alat cuci cetaknya. Wah menyenangkan sekali berada di kamar gelap dan melihat keajaiban bagaimana lamat-lamat citra gambar muncul saat di celup-celupkan di cairan pengembang dari secarik kertas yang telah “disinari”.

“Kamu lihat merek pada bola lampu khusus ini tidak terletak di bagian bawah lampu seperti biasa, tapi ada di pinggir, hal ini supaya tidak mengganggu merek ini tercetak pada foto kamu”, demikian Pakde Kumis memperlihatkan bohlam khusus pada alat cetak fotonya.

Al senang bisa mempertontonkan kemahiran dalam kamar gelap itu kepada teman-temannya. Sebaliknya teman-temannya juga senang meminta Al mencetak klise mereka. Lumayan, kata Al, ganti ongkos cetak yang sukarela bisa untuk membeli rol film tanpa mengurangi uang jajan. Lumayan, sisa ongkos sukarela untuk cetak film, bisa buat jajan….kata teman-teman.

*** Taxi yang membawa Al dan Ling masih melaju ke Samarinda….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: