DEMAM BUS WAY

13 Mar

“Demam itu penyakit menular ga ya? Cocoknya ini demam busway atau wabah busway ya? Oke, sepakat ga sepakat, kita sebut saja demam busway ya.

“Ling, demam busway ini ternyata merambah ke beberapa daerah di wilayah Indonesia ya.”

“Iya, Al. Ke Jogja ada Trans Jogja. Semarang udah ada Trans Semarang. BRT, katanya alias Bus Rapid Transportation. Di Palembang ada Trans Musi. Bogor punya Trans Pakuan.”

“Ide boleh sama, nasib pendapatan petugas pun bisa jadi ga jauh beda. Tapi gengsi bisa jadi berbeda. Di Jogjakarta antik ya, Ling. Petugas penjaga pintu bus disebut sebagai pramugari dan pramugara.”

“Taelaa… kayak sebutan pembantu ganteng dan cantik di pesawat. Sedikit kebanggaan yang mungkin tidak dirasakan oleh petugas busway di jakarta.

“Hehehe, kebayang ya, kalau sang petugas ditanya kerja apa? Dengan bangga akan menjawab: pramugara.”

Tapi memang keramahan pramugara trans Jogja juga berbeda dengan petugas trans Jakarta ya, Ling. Mereka selalu tersenyum dan sabar menjawab saat penumpang yang baru mau naik bertanya. “Inggiiih, betul mas….ini lewat Malioboro.”

“Pramugara pramugari juga tertib dan disiplin pada pekerjaannya. Di setiap mendekati halte akan mengucapkan, “Halte berikutnya. Siapkan barang bawaan Anda dan hati-hati melangkah.” Sangat telaten dan konsisten.

“Seperti menelan pita kaset dan siap diputar tiap saat. Ga kayak petugas di sini. Tuh lihat, malah asik sms-an. Lahhh sopirnya juga telepon-telepon mantan pacar,” Ling selalu sewot dengan kondisi-kondisi ini tapi ga bisa berbuat apa-apa.

Al cuma mesem-mesem. Bagi Al, segala kesulitan dan perjuangan menggunakan sarana busway tetap memiliki keunggulan dibandingkan mengunakan sarana lainnya, salah satunya adalah bahwa di dalam busway dipastikan tidak ada pedagang asongan dan pengamen.

Al bukanlah orang yang alergi terhadap pengamen, Al tidak memerlukan alasan untuk memberi atau menolak memberi koin recehan kepada mereka. Namun kalau dihadapkan kepada pilihan naik bus yang ada atau tidak ada pengamennya, tentu Al lebih suka memilih yang tidak ada dong.

Busway yang awal pengadaannya penuh konflik penolakan dari berbagai pihak termasuk masyarakat, kini ternyata semakin membludak fansnya. Kalau kawan pernah naik saat jam sibuk pulang kantor, kebetulan hujan, ada beberapa armada rusak wah lengkap sudah penderitaan.

Tapi asiknya berpadat-padat adalah kalau berdiri, tidak lagi perlu berpegangan. Ikuti saja irama pergerakan bus dan goyangan tekanan penumpang depan belakang kiri kanan. Coba lemaskan lutut, angkat kaki kanan…..baguuus…….perlahan angkat kaki kiri…….mmm rasakan badan melayang. Memang lebih baik berdiri di dalam bus daripada berdiri terus di halte. Filosofi Ling.

“Pemberhentian berikutnya. Halte Cawang UKI. Perhatikan barang bawaan Anda dan hati-hati melangkah.” Itu suara kaset rekaman yang kadang diputar, kadang tidak, kadang juga melesat tidak sesuai dengan nama halte yang disinggahi bus.

***Nyambung besok ya. Al dan Ling mau turun dari Trans Jakarta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: