PELAJARAN SURVIVAL

6 Mar

Buat Al, melakukan petualangan adalah seperti bahan bakar untuk memulai semangat baru. Adventur yang dilakukan Al selalu adventur yang terencana. Al senang sekali dengan perencanaan detail, bagaimana melakukan perjalanan, transportasi apa yang digunakan, perbekalan yang di bawa, makanan apa yang di makan dari waktu ke waktu, semuanya terdata dan tercatat. Al ingin menjalani segala sesuatunya dengan akurat, jarang sekali Al mengalami petualangan yang tidak terencana. Prinsip Al, kendalikan selama masih bisa, karena banyak hal tidak sesuai teori dalam suatu adventur.

“Apa contohnya?” tanya Ling.

“Begini ya, Ling. Sesungguhnya, jarang bahan makanan yang dipelajari di dalam teori survival, bisa ditemukan di tengah rimba. Kalau pun ditemukan itu pun akan sulit ditelan. Jangan pernah berharap deh ada buah-buahan ranum di hutan yang siap petik dan bisa dinikmati sembari bermalas-malasan. Bayangin, Ling. Kalau ada pisang matang, tentu sudah habis dimakan binatang hutan duluan dong…mereka kan lebih cekatan dan lebih lapar daripada para pendaki yang masih sempat “curi-curi” bawa makanan kecil saat di sweeping sebelum melakukan jungle survival.”

“Sweeping tuh apa?” “Razia…..” “Oohh…., jadi kalau survival lebih dari seminggu gitu misalnya, makan apa dong?”

“Ya….Cukup merasa beruntung ajah kalau dapat pisang yang masih muda dan bergetah, atau pisang batu.”

“Walahh memang enak?”

“Ya ga lah..siapa yang bilang enak? Cuma untuk menghibur diri ajah, tidak ada pisang batangnya pun jadi.”

“Nah, ada lagi tuh. Makan batang pisang.”

“Yeee loe kira di hutan ada yogurt, apa?”

“Hihihiihii…iyaya.”

“Konon katanya, batang bisang bagian dalam bisa dimakan. Tapi butuh kesabaran untuk menikmati dan mengunyahnya dengan bantuan garam atau didorong air minum. Salah memilih batang pisang yang mau dikunyah, bisa-bisa mulut akan penuh dengan serat-serat getah layaknya sarang laba-laba.”

“Terus ga bisa ditelan ya. Spider-mouth-man, hehehe. Kebayang ga, kalo spiderman jaringnya keluar dari tangan, spider-mouth-man keluar jaring dari mulut. Fuhh..fuuhh.” Ling sambil monyong menyebalkan. Soalnya, Al lagi serius.

“Loe kayaknya harus ngerasain jungle survival deh, Ling.”

“hmmm….ayook yuk.”

“Ah, mendingan loe denger cerita gue ajah deh. Pasti nyusahin kalo beneran.”

“Kayaknya sih, begitu.”

“Ada tumbuhan lain, koq. Pakis. Konon favorit nih karena paling banyak dan mudah ditemukan. Namun bagian mana yang bisa di makan? bagian dalam batang kayu nya? oh tentu tidak, mau di rebus sampai hancur pun tetep keras seperti kayu.

Atau mencoba mengikuti teori : ambil pucuk-pucuk tunas yang masih menggulung, hilangkan bulu-bulu coklat halusnya, lalu rebus. Suwer deh, begitu di gigit, bagian tengah pucuk muda yang ternyata berlendir mirip –maaf– ingus itu benar-benar ga bisa ditelan.

Lagi-lagi garam dan air garam yang harus “mendorong” makanan itu tergelincir masuk ke tenggorokan.

Makanan hutan yang bisa ditelan cuma jamur jamur di pepohonan, yang sambil makan sambil was-was keracunan.”

“Kalau singkong, ubi gitu ada ga, Al?”

“Ada, umbi-umbian hutan seperti keladi. Tapi kayak pisang tadi, jangan pernah berharap dapat umbi yang gemuk dan besar sebesar betis karena pasti sudah habis oleh peserta pendaki yang lebih dulu lihat. Jadi, untung-untungan.”

“Eh, di Cina kan kalau ga salah ada penduduk yang makan serangga mentah atau dibakar kan? Di hutan juga bisa begitu, Al?”

“Wah itu dia, Ling. Cemilan cacing dan belalang yang dibakar garing itu berkah luar biasa, Ling. Tapi, kalau loe pikir bakarnya pakai ilmu menyalakan api dengan menggosok-gosokkan kayu hingga menjadi api ….salah banget tuh. Upaya menghasilkan setitik bara api tidak sebanding dengan tenaga yang lagi loyo kurang makan.”

“Ah masak sih…”

“Iya. Cara paling mudah ya pemantik. Kalau gosok kayu, ya keburu cacing di perut jadi naga deh…”

“Biasanya para instruktur melepas ular piton besar di area survival, supaya bisa di temukan oleh para peserta jungle survival seolah tidak disengaja”. “Penemuan ular ini sekaligus menjadi penutup acara survival yang sudah berlangsung berhari-hari, seluruh peserta mengerumuni ular yang sudah dikuliti, dengan suka cita, seolah ‘berbuka puasa’, oh ya biasanya awalnya instruktur mendemonstrasikan cara menyayat tubuh ular, mencari bagian ‘jeroan’ dan dengan keberanian yang mengagumkan, ‘hap!’ menelan mentah-mentah seraya berharap peserta lain meniru nya.”

“Begitu ya, koq di buku ini gampang kayaknya. Eh udah ya, Al. Gue dipanggil mamah, makan yuk.”

Klik. Ling menutup gagang teleponnya.

Yuk, Ling.Gue mo nambahin:

*** “Romantisme bikin api kayak indian-indian cuma ada di buku dan film.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: