KERETA API MANIA

20 Feb

Al pernah berkisah, “Ling, pernah bepergian sendiri ga? Yang jauh gituuu, sendirian dan waktu masih imut.” Ling geleng kepala, “Belom. Memangnya, loe pernah ke mana?” “Ke rumah Pakde di Surabaya. Sendirian, waktu gue umur 12 tahun lho, Ling”.

Bayangkan deh kisahnya begini: Al duduk sendirian di kereta api jurusan Bandung-Surabaya. Pandangannya tertuju ke arah luar dari jendela. Ada hamparan sawah menghijau, kadang lengkap dengan kerbau dan para petani bekerja, berlatar belakang gunung dan langit persis seperti gambar Al dan teman-teman di waktu mata pelajaran menggambar.

Sesekali nampak kereta Al berpacu dengan mobil yang berjalan di jalan raya tepat di sisi rel. Al membetulkan posisi tempat duduknya, mengamati bagaimana mobil itu berusaha mendahului laju kereta. Namun akhirnya mobil itu harus melambat dan akhirnya berhenti karena melintas rel kereta yang ditumpangi Al, dan berarti mobil itu KALAH. Ah..Al merasakan kemenangan itu mengalir menghangatkan sekujur tubuhnya.

Al juga nyaris hapal stasiun-stasiun yang di lewati oleh kereta dari perjalanan Bandung ke Surabaya. Al pernah mencatatnya dan kerap mencocokkan catatannya saat perjalanan kembali atau saat berkesempatan melakukan perjalanan lagi. “Empat stasiun lagi kita tiba di Mojokerto”, “Jarak tempuh Madiun – Nganjuk kalau lancar 3 jam persis”, “Terowongan ijo adalah setelah statiun Gombong kalau dari arah Jogja menuju Bandung.

“Awas sebentar lagi kereta melewati jembatan panjang sungai Serayu”. Atau, “Kereta ini sedang menunggu sinyal masuk stasiun dibuka”. Al yakin, saat kereta yang ditumpanginya berhenti di tengah-tengah persawahan, Al akan menyembulkan kepalanya untuk bisa melihat tiang rambu di bagian depan. Saat rambu itu membuka, ia kembali memasukkan kepalanya dan duduk sambil mengeluarkan pengumuman “Yak, sebentar lagi kereta akan jalan”, batinnya semua penumpang tentu akan mengagumi kemampuannya.

“Gue kagum ama kereta api dan stasiunnya, terutama statiun besar yang memili banyak rel langsir. Tahu ga, jenis-jenis lokomotif yang menarik gerbong-gerbong itu beda-beda. Kalau lokomotif bertanda CC itu berarti ada sepasang roda yang dirangkai tiga-tiga yang menggerakkan lokomotif itu, kalau BB berarti ada sepasang roda namun masing-masing memiliki dua rangkaian”.

Al menunjukkan kode dan kereta-kereta itu sambil menyusur jalur rel stasiun KA Bandung. Al bergaya seperti petugas yang sedang menjelaskan pada siswa yang minta penjelasan untuk tugas sekolah. Padahal Ling ga minta dijelaskan.

“Kenapa sih loe suka ama kereta api, Al?” “Kereta api tuh sarana transportasi yang “mekanistis”, Ling. Penuh kendali dan punya perencanaan yang akurat. Tidak seperti supir bus yang bisa memutuskan apa yang ingin dia lakukan dalam mengemudikan bus nya, masinis kereta api harus tetap tunduk pada aturan yang dikendalikan dari petugas di stasiun”.

“Tau ga, Ling. Ada lokomotif yang bisa “memanjat” rel yang bergerigi. Kayak yang digunakan di jalur menanjak di Ambarawa dan juga Sumatera Barat. Ah, Ling, gue bercita-cita bisa melihat langsung kereta seperti itu”. “Tapi, Ling, yang terpenting saat naik kereta api, gue merasa jadi satu-satunya penumpang yang tahu segalanya tentang kendaraan yang sedang gue tumpangi”.

“Iya ya, hebat juga ya pengetahuan per-kereta api-an loe”.

”Tumben memuji”. “Iya, gue juga heran, hehehe”.

***Tuut…Tuut…Tuuut….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: