BUSWAY ADALAH BUS DENGAN WAY

7 Feb

Antri naik busway memang bisa mengguncang mental, terlebih jika mengantri di halte-halte transit, yang pastinya penumpang dari berbagai penjuru tumplek disana. Ditambah dengan bus yang telat tiba. Eh…telat…? Ga deh.. busway kan ga pernah menetapkan jadwal kapan tiba di suatu halte.

Antrian semakin panjang lebar meluas karena menunggu busway datang, kalau tidak sedang beruntung bisa lebih dari 28 menit sampai hampir satu jam.

Saat menunggu semakin menggelisahkan dengan kelakuan penumpang yang mau cari nyaman sendiri. Cara paling klasik dengan memanfaatkan kelemahan petugas yang ga tegas. Dengan sedikit pendekatan, mereka bisa diberi ijin masuk dari jalur khusus penumpang keluar yang ada di halte-halte tertentu atau pintu masuk khusus bagi penumpang yang berkondisi lemah termasuk ibu hamil, para orang tua. Jadi, ketika yang antri baru mulai naik berebutan menerobos dan mencari tempat duduk, ehh..eehhh… di dalam koq sudah ada yang duduk santai padahal bukan termasuk orang tua atau ibu hamil.

Ada lagi kelakuan para pengantri yang berdiri di barisan depan. Begitu melihat bus yang datang sudah padat, memilih diam demi mendapatkan bus berikutnya yang kosong. Kebayang kan, jalur antri penumpang di belakangnya yang ingin naik terhambat. Situasi ini dialami Al dan Ling yang saat itu berada pada antrian belakang.

“Permisi, permisi, permisi….”, mereka siap-siap naik. Al menarik tangan Ling sehingga terseret ke depan, sekaligus terdorong dari belakang. “Al tunggu…..! Duh jarak bus en halte nya kejauhan ne!” teriak Ling sambil melangkah lebar masuk busway.

Saat masuk ke dalam bus pun situasi tidak menjadi lebih baik apalagi memasuki halte berikutnya, bukannya berkurang karena ada yang turun, namun semakin berjubel dengan yang naik. Maksimal 87 penumpang tertulis di sana tapi petugas penjaga pintu pasti ga baca atau salah hitung.

Seharusnya diterapkan sistem seperti pada lift-lift di bangunan tinggi, kalau muatannya sudah berlebihan, akan bunyi “tiiiiit-tiiit”, lift tidak akan bergerak hingga ada yang keluar dari lift dan bunyi alarm itu menghilang. Kali ini petugas busway tidak usah repot-repot mengatur atau membatasi penumpang yang masuk, saat alaram busway berbunyi, penumpang yang memaksakan naik harus turun, atau bus tidak bisa bergerak maju.

Sudah dapat diduga. Berdiri lagi. Posisi Merdeka! Begitu istilah Al untuk posisi tangan memegang tangkai di saat berdiri dalam busway. Antri yang begitu padatnya merupakan kesempatan buat Al mempraktekan teorinya. Tidak perlu tenaga untuk berdiri karena tergencet dari berbagi penjuru.

“Break break! Empat sembilan, tahan empat sembilan,” tiba-tiba terdengar suara di radio pengemudi busway yang ditunpangi Al dan Ling. “Tahan, tunggu pak. Ok…tahaaan….” Kata suara di radio itu. Ada apa nih? Oooo ternyata ini strategi untuk menahan kendaraan lain yang ingin masuk jalur busway.

Jalur Busway adalah jalur yang seharusnya “steril”, hanya busway yang boleh melaju di sana. Namun tidak demikian kenyataannya. Situasi ini jelas-jelas mengganggu perjalanan busway itu sendiri, terutama di saat persimpangan. Saat di persimpangan empat, terdapat rambu lalu lintas yang khusus diperuntukkan oleh busway. Jadi saat tanda untuk kendaraan lain menyala hijau dan boleh belok ke kanan, busway harus berhenti. Sebaliknya saat kendaraan di jalur non busway berwarna merah untuk belok ke kanan, maka jalur busway akan hijau.

Nah persoalan muncul saat ada kendaraan biasa yang masuk ke jalur busway, dan tiba di persimpangan tadi. Mobil biasa itu tentu tidak bisa belok ke kanan lantaran lampu masih merah, yang seharusnya hijau bagi busway. Akibatnya, perjalanan busway terhambat gara-gara ulah pengemudi kendaraan yang ada di jalur busway itu.

Salah satu trik pengemudi busway supaya jalurnya “bebas” dari pengganggu, adalah dengan memblokir jalur masuk khusus busway. Busway akan berhenti tepat di ujung saat mau masuk ke jalurnya sehingga kendaraan di belakangnya tidak memiliki peluang dan harus masuk ke jalur biasa.

Pengemudi kendaraan yang tidak memahami, justru akan membunyikan klaksonnya supaya busway segera maju. Ah, mereka tidak sadar bahwa jalur busway bukanlah jalur miliknya, jadi gak ada alasan mereka terganggu karena ada busway yang berhenti lama di ujung jalur.

Al yang sejak tadi sibuk dengan smartphonenya mulai bersuara, “Eh Ling lihat deh menurut Wikipedia:

Transjakarta atau umum disebut Busway adalah sebuah sistem transportasi bus cepat atau Bus Rapid System di Jakarta, indonesia. Sistem ini dimodelkan berdasarkan sistem TransMilenio yang sukses di Bogota, Kolombia. Perencanaan Busway telah dimulai sejak tahun 1997 oleh konsultan dari Inggris. Pada waktu itu direncanakan bus berjalan berlawanan dengan arus lalu-lintas (contra flow) supaya jalur tidak diserobot kendaraan lain, namun dibatalkan dengan pertimbangan keselamatan lalu-lintas.

Meskipun Busway di Jakarta meniru negara lain (Kolombia, Jepang, Australia), namun Jakarta memiliki jalur yang terpanjang dan terbanyak. Sehingga kalau dulu orang selalu melihat ke Bogota, sekarang Jakarta sebagai contoh yang perlu dipelajari masalah dan cara penanggulangannya”.

***Sekian dulu, Al dan Ling pegel berdiri sambil ngetik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: