“LING, gi pain?” Suara Al di ujung kabel telepon. “Gi baca, Bumi Manusia.”
“Weiii… keren ga?”
“Bangeett. Wuah gue baru pernah baca ga bosen-bosen. Kalimatnya enak nyangkut terus. Elo ke sini ajah. Trus kita baca di kebon yuk.” Continue reading
“LING, gi pain?” Suara Al di ujung kabel telepon. “Gi baca, Bumi Manusia.”
“Weiii… keren ga?”
“Bangeett. Wuah gue baru pernah baca ga bosen-bosen. Kalimatnya enak nyangkut terus. Elo ke sini ajah. Trus kita baca di kebon yuk.” Continue reading
LING lagi galau. Wajahnya merengut, bibirnya dicubit-cubit, kadang digigit-gigit. Hehe kebayang ga? Penyebab Ling galau bukan Al. Karena Ling percaya dan pede kalau Al ga akan pindah ke lain kaki eh hati. Hihihi… Continue reading
“TUNGGU dong, Al. Brenti sebentar….,” Ling terengah-engah menanjak di jalan setapak jalur dago pakar-lembang. Jalur setelah menerobos gua belanda adalah jalur setapak yang dominan menanjak. Jika terlalu sering istirahat biasanya Ling tetap berhenti dengan alasan membetulkan tali sepatu atau menunjukkan ketertarikan kepada objek yang ditemuinya, “Waaah daun nya bagus yaa..eh ada kupu-kupu…” Continue reading
“Buat kesehatan ya…buat kesehatan bagi yg suka merokok. Selain sehat juga hemat uang. Ini rokok bisa untuk setahun karena bisa di charge. Hanya rp 20rebu,” penjual itu langsung mempraktekan cara menyambung rokok-rokok-an itu dan pengguna tinggal menghisap seperti merokok sungguhan. Asal keluar dari ujung rokok yg menyala warna merah. Continue reading
LING itu pelupa, temans…Terutama kalau bawa payung. Kalau tuh payung sudah bersandar di suatu tempat yang dituju, apakah di kampus, di café, di kendaraan, di toko, pasti payungnya selalu lupa untuk diajak pulang lagi. Alasannya memang Ling lebih suka tidak bawa payung meski hujan. Jadi lebih suka kehujanan. Basah baju satu kering di badan. He he..dangdut ria. Continue reading